Impiannya, Impianku.
Lyna berlari kencang meninggalkan rumahnya. Membuka pagar rumahnya tanpa mentupnya kembali. Ia berlari lebih kencang lagi. Wajahnya dihiasi oleh cairan bening yang bercucuran semakin deras. Lyna tak menyekanya, ia membiarkan air mata itu beradu dengan angin malam yang membuat tubuh mungilnya itu menggigil.
Lyna berhenti berlari ketika danau didekat rumahnya itu menatapnya tenang, beda sekali dengan dirinya yang saat ini sedang berontak, ia merutuk dirinya sendiri. Lalu, ia mengambil sebuah kerikil yang berserakan tak jauh didekat kakinya. Melemparkan kerikil itu ke arah danau dengan sekuat tenaga, “Berhenti samain gue!!” teriak Lyna. Ia menghempaskan tubuhnya ke tanah berumput itu. Menekuk lututnya. Masih terisak.
“Danau dan gue aja beda. Sekuat apapun dan sebesar apapun batu yang gue lempar ke dalamnya, gak akan bisa merubahnya sama berontaknya kayak gue.” Tangis Lyna. “Gue juga. Gue gak bisa sama seperti danau yang sedang tenang itu. Karena satu alasan, danau itu bukan gue.”
Tiba-tiba saja setangkai mawar merah muncul dari belakang menghadap dirinya. Angin malam itu seakan terhenti. Ada selimut awan yang tanpa sadar telah menghangatkan tubuhnya. Ia merasakan seseorang telah melingkari tubuhnya dan memberikan atmosfir tentram disekitarnya.
Lyna menoleh ke belakang tubuhnya. Tepat saat ia menoleh, matanya yang penuh dengan air mata itu menatap langsung mata seseorang dibelakanganya tanpa terhalang apapun. Lyna menatap dalam mata itu, kemudian ia memeluk seseorang itu erat-erat.
“Lo kenapa? Cerita sama gue yuk.” Seseorang itu membalas pelukan Lyna. Ia mengusap pelan rambut gadis cantik itu dengan kasih sayang. Lyna mengendorkan pelukannya, “Thanks ya Ren. Gue emang butuh cerita ini semua ke elo.”
Reinald tersenyum tulus. Ia menyeka air mata gadis itu. Kemudian, ia duduk disamping Lyna. Jaketnya sengaja dilepasnya dan dikenakannya untuk Lyna, karena ia tahu, Lyna lebih membutuhkannya daripada dirinya sendiri. Reinald sengaja merangkul pundak Lyna, mendekapnya, mencoba menenangkannya. Isak gadis itu masih terdengar ditengah keheningan.
“Udah, jangan nangis. Bunga ini buat lo. Jangan nangis yaa. Gue gak mau kalau lo sampe nangis kayak gini.” Lyna mengangguk, mengambil setangkai mawar itu.
“Ren, emang gue salah ya? Kalau gue itu beda dari kakak gue?” tanya Lyna memulai pembicaraanya.
Reinald meruncingkan matanya, “Maksud lo, kak Icha?”
“Iya. Kak Icha. Gue akuin kalau dia itu multitalent. Bisa main musik, model, cantik. Tapi, gue gak harus jadi dia kan?” Reinald hanya terdiam. Lyna menutupi mukanya dengan kedua tangannya. “Mama dan papa nyuruh gue buat ikutan kelas modeling, biar kayak kak Icha. Padahal, lo kan tahu sendiri kalau gue itu paling anti sama yang berbau ‘Model’” Lyna menekan kata model dengan suara yang lebih tinggi. Reinald terkekeh. Lyna melepaskan kedua tangannya dari mukanya. Ia menatap heran ke Reinald. “Kenapa lo?” tanya Lyna ketus.
“Hahaahaha, gue tahu kenapa elo benci sama model. Pasti gara-gara waktu lomba Fashion Show kelas 2 SD. Kala itu lo jatuh di red carpet soalnya lo injek gaun lo sendiri. Huahahaha, lo lucu banget Lynaaa..” Reinald tertawa terbahak-bahak.
“Ya gak usah diinget sampe segitunya kali, Ren.” Lyna tersipu. Ia malu mengingat-ingat kejadian itu.
“Maaf, maaf. Hahaha.” Kata Reinald dengan sisa-sisa tawanya. “Terus sekarang gimana?”
“Gimana?” Lyna bingung dengan apa maksud Reinald “Gimana apanya?” ia berbalik tanya.
“Malah balik nanya. Ya gimana? Lo mau pulang atau tetap disini?”
Lyna baru ingat bahwa tujuannya mengajak Reinald untuk tetap tinggal adalah memberikan solusi tentang masalahnya. Bodoh, ada apa dengan pikiranmu, Lyna. Rutuknya dalam hati. “Gue mau tetap disini.” Jawabnya singkat.
“Na, sekarang mendingan lo pulang deh. Kasihan orang tua lo, kakak lo, lo sendiri. Sekarang lo coba jujur deh sama orang tua lo—“
“Tapi, Ren—“
“Ssst. Gue belum selesai! Jangan dipotong.” Kata Reinald sebelum diprotes Lyna lebih dalam. Lyna segera bungkam.
“Gue tahu, mungkin lo udah bilang berkal-kali sama mereka. Tapi, mungkin juga, mereka cuman mau yang terbaik buat lo. Lo pikir, acara kabur dari rumah bisa menyelesaikan semua masalah? Enggak. Lo salah, Na. sekarang mendingan itu lo pulang, minta maaf sama mereka, terus tidur, terus bagun, dan terus lo buktiin sama mereka kalau lo lebih unggul dalam urusan fotografer daripada modeling. Kalau lo Cuma ngoceh mempertahankan keinginan lo sebagai fotografer professional ke mereka tanpa ada bukti, haha, lo gak ada apa-apanya dibanding dengan kak Icha.”
Lyna terdiam sejenak. Menyusun kembali kata-kata Reinald yang susah dicerna oleh otaknya. Ia segera sadar, bahwa sebenarnya omongan cowok disebelahnya ini ada benarnya juga, Lyna tersenyum. “Makasih saranyaa..” kemudian ada suatu dorongan yang membuat Lyna memeluk tubuh kekasihnya sekali lagi.
“My pleasure, Na.” ucap Reinald membalas pelukannya.
-
Sebulan setelah kejadian itu..
“Naaa. Sini deeh..” Andine, teman Lyna menarik lengan gadis itu kuat-kuat. Lyna menoleh sekilas, kemudian Lyna menghentikan obrlannya dengan Reinald barusan.
“Bentar ya, Ren.” Ujarnya pada Reinald. Reinald tersenyum, mempersilahkan Lyna untuk pergi dengan Andine.
“Kenapa deh, Din?” tanya Lyna sambil mengikuti arah tarikan dari Andine. Andine tak menjawabnya, ia hanya diam sambil tersenyum jahil. Itu membuat Lyna semakin penasaran dengan apa yang akan ditunjukkan oleh Andine padanya.
Ruang Kepala Sekolah. Ya, ruangan itu. Andine membawa Lyna kesana. Entah untuk alasan apa.
“Misi bu.” Ucap Andine sopan setelah mengetuk pintu sebanyak tiga kali.
“Masuk.”
Andine dan Lyna segera membuka pintu, kemudian masuk ke ruangan full AC itu “Ini yang namanya Alyna Sastra Umari, bu.” Kata Andine menyebutkan namaku lengkap, tunggu, aku salah apa? Pikir Lyna tak karuan.
“Oh. Duduk disini, Lyn.” Kata Ibu Grace mempesilahkan Lyna duduk. Dengan sedikit kikuk, Lyna segera menarik kursi didepannya dan mendudukinya. “Dan untuk kamu, Andine, saya pesilahkan keluar dari ruangan saya. Saya hanya butuh bicara empat mata dengan Alyna. Terimakasih juga buat bantuannya ya.” Lanjut Ibu Grace sopan. Andine mengangguk sembari tersenyum, lalu ia pergi dari ruangan ini, meninggalkan Lyna sendiri dengan Ibu kepala sekolah itu.
Lyna tertunduk takut. Dalam hatinya, ia bertanya-tanya sendiri sambil mengingat-ingat apa kesalahan yang tak sengaja ia perbuat.
“Alyna Sastra Umari,” kata Ibu Grace, membaca nama lengkap Lyna sekali lagi dari kertas putih ditangannya, entah kertas apa.
Lyna mengangguk pelan. Tenang Na, jangan panic, lo gak pernah berbuat onar disini, jadi lo gak perlu takut. Gerutunya dalam hati.
“Sebulan lalu, kamu ikut lomba fotografer terbaik tingkat Nasional, bukan?” tanya Ibu Grace.
“I.. Iya bu. Ada apa, ya?”
“Begini, Ibu baru mendapat kabar bahwa kamu terpilih menjadi salah satu pemenang se DKI Jakarta. Saat hasil jepretan kamu diadu kembali dengan hasil jepretan pemenang dari provinsi lain, kamu terpilih menjadi the best one. Dan dapat kesempatan pergi ke Amerika Serikat untuk sekolah Fotografer setelah Ujian Nasional dilaksanakan. Selamat ya.” Kata Ibu Grace sambil menyerahkan kertas putih ditangannya kepada Lyna.
Lyna terdiam lama sambil mengambil kertas putih dihadapannya. Lyna ingat. Saat itu, Reinald yang memaksanya untuk ikut, meskipun dirinya sendiri sangat tak percaya diri dengan hasil jepretannya kala itu. Setelah karya itu dikirim, Lyna tak pernah berhenti untuk memikirkan hasilnya. Dan ia terus berfikiran pesimis, bahwa ia tak akan menang. Tapi, Reinald mendorongnya untuk tetap bersikap optimis.
Ini seperti mimpi. Batin Lyna masih belum percaya. Tapi, percaya tak percaya, ini adalah sebuah realita. Kenyataan. Ia sendiri tak tahu bagaimana harus berekspresi. Yang jelas, saat ini Lyna sangat bahagia. Tolong tekankan. Sangat. Bahagia. “Terimakasih banyak, buu..” pekiknya pelan. Ia menahan suaranya agar tak keluar terlalu berlebihan demi menghormati Ibu Grace.
“Yasudah. Silahkan keluar.” Ucap Ibu Grace ikut senang. Lyna mengangguk dan beranjak pergi dari ruangan itu. Setelah menutup pintu Ruang kepala sekolah, Lyna mendapati Andine dan Reinald dihadapannya. Dipeluknya sahabat dan pacarnya itu secara bergantian.
“Lo kenapa, Na? seneng banget kayaknya.” Kata Reinald keheranan. Andine pun sepertinya berpendapat sama dengan Reinald.
“Gue dapet beasiswa Sekolah Fotografer di Amrik! Gue, gue, gue.. Ah, gue seneng banget, guys!! Gue gak nyangkaa.” Seru Lyna.
“Seriusaan?” Andine melongo. Nampak tak percaya.
“Serius, Diinnn.” Jawab Lyna sumringah.
“Selamat ya, Na. lo pantes jadi yang terbaik.” Ujar Reinald seraya menepuk puncak kepala Lyna.
Lyna tersipu malu, “Thanks ya, Ren. Ini juga berkat pemaksaan dari elo. Hehe.” Katanya.
“Ciee Lynaa, selamat yaa.” Andine memeluk sahabatnya itu. Ia terharu, sampai cairan bening dimatanya meluncur keluar begitu saja.
“Jangan nangis dong, Din,” ucap Lyna sambil membalas pelukan sahabat dekatnya itu. “Itu juga berkat do’a kamuu. Makasih ya.” Lyna berusaha menghibur Andine.
“Iya Na, sama-sama.” Andine melepas pelukannya. Lalu menyeka kedua pipinya yang basah akan air mata itu.
“Kapan lo berangkat?” tanya Reinald mengganti topik.
“Seminggu habis UN selesai, Ren.”
-
@Bandara
Ujian Nasional tingkat SMA sudah berlalu. Seminggu sesudahnya adalah hari dimana Lyna harus pergi meninggalkan tanah air. Hari-hari sebelumnya seakan cepat berlalu, membuatnya semakin berat meninggalkan Indonesia. Ada rasa senang yang menyelubungi batin Lyna, dan ada rasa pedih yang mulai mengalir dalam darahnya karena harus meninggalkan orang yang ia sayang dalam jangka waktu yang cukup lama.
“Walaupun untuk mencapai impian itu kamu hanya sendiri, orang yang mempunyai impian, tak akan pernah merasa kesepian.” Ucap Reinald memberi semangat pada Lyna. Kedua pasangan itu berpelukan cukup lama. “I’ll be waiting for you. Sukses ya, Na. Aku sayang kamu.” Bisik Reinald sembari melepas pelukannya.
Setelah itu, Lyna berganti memeluk keluarganya. Keluarganya juga mulai sadar, bahwa mereka tak berhak untuk mengatur masa depan Lyna. Keterharuan. Ya, saat ini adalah saat yang mengharukan.
Kini waktunya Lyna untuk benar-benar pergi, menggapai impiannya walau sebenarnya ia merasa kehilangan. Tapi ia tersadar oleh kata-kata Reinald. Bahwa orang yang memiliki impian, takkan pernah merasa kesepian. Ya, aku percaya itu. Batin Lyna melangkah lebih ringan.
Wuaaaahh!!! bagus din! beneran! singkat tapi ngena! bagus, hahaha.. bikin lagii!! :D
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusOwkay Tata :D
BalasHapus