Senin, 13 Juni 2011

Berita Pada Kawan (Cerpen)


Berita Pada Kawan

Perjalanan ini, trasa sangat menyedihkan
Sayang engkau tak duduk disampingku kawan
Banyak cerita yang mestinya kau saksikan
Ditanah kering bebatuan..

Rio melihat tempat disekelilingnya. Sepi. Suasananya sama setelah bencana dahsyat itu melanda tempat tinggalnya 15 tahun lalu. Ia membuka pintu mobilnya. Mobil Yaris berwarna silver yang terkesan elegan itu dibiarkannya terparkir seadanya. Ia melangkah turun perlahan menyusuri tanah kering.

Rio berdiri didepan sebuah pohon yang sangat besar. Masih terlihat kokoh. Tapi, dedaunan hijau yang menghiasinya sudah tiada, menandakan bahwa pohon itu tak hidup lagi, melainkan mati.

Didekatinya pohon itu. Ia mencari secara detail setiap batang pohon itu sehingga ia menemukan sesuatu yang dicarinya. Sebuah ukiran nama dua orang sahabat yang telah tinggal dibatang itu bertahun-tahun lamanya. Ketemu. Rio tersenyum sembari mengelusnya pelan. Dibacanya tulisan yang diukir seorang bocah 15 tahun lalu. “Mario dan Alvin.”


***Siang itu, semua anak-anak kumpul disebuah lapangan yang besar. Hari itu hari sabtu, sekolah mereka libur. Jadi, yang berminat untuk bermain dilapangan luas ini sangatlah banyak.

Seorang bocah laki-laki duduk sendirian dibawah sebuah ayunan. Gerakan matanya mengikuti gerakan ayunan itu. Bocah itu tampak tak bersemangat. Dilihat dari mukanya yang kusut dan pandangan kosongnya.

Alvin menghentikan ayunan itu tiba-tiba. Membuat seseorang yang sedang memainkannya tadi terpenjat kaget. Ia menoleh kebelakang, tepat ke arah Alvin yang sedang menyengir tak berdosa. “Jangan ganggu aku, dong!” bentak bocah kecil itu.

Alvin diam. Merasa bersalah. Ia melangkah ke depan, menatap bocah itu. “Maaf ya. Aku Cuma bercanda. Lagian, kamu main ayunannya gak bersemangat! Gak asik.” Kata Alvin polos.

Bocah itu hanya diam. Masih kesal dengan perlakuan Alvin. Ia menunggu reaksi Alvin yang bosan menanti permintaan maafnya, karena saat ini bocah itu memang benar-benar tak bisa diganggu.

Meleset. Alvin tetap berdiri dihadapannya. Tangannya terulur perlahan melihat muka bocah yang diganggunya itu tetap tak perduli. Dalam hatinya, ia harus meminta maaf kepada seseorang sampai seseorang itu memaafkannya.

Bocah itu merasa tak nyaman dengan sikap Alvin yang tak mau pergi meninggalkan dirinya. Kalau begitu, biarkan aku saja yang pergi, batinnya. Kemudian, ia segera beranjak pergi dari ayunannya. “Aku mohon, maafin aku! Aku harus dapat maafmu, kalau tidak, aku tak boleh pulang.” Kata Alvin cepat sebelum bocah itu pergi menjauh.

Bocah kecil itu berbalik badan. Mengangkat sebelah alisnya. Menatap Alvin dengan tatapan menyelidik “Maksud kamu?”

“Kata papa, aku harus minta maaf sama orang yang udah aku ganggu sampai aku benar-benar mendapatkan maaf darinya. Kalau tidak, aku tak boleh pulang..” Alvin menunduk, kemudian mendongak lagi “Karena itu, maafin aku ya?”

Entah apa yang membuat bocah itu mendekat ke arah Alvin. Kemudian ia berhenti beberapa jarak dengannya. “Iya. Aku maafin kamu. Sekarang, kamu bisa pulang..” kata bocah itu tulus. Ia menepuk pelan pundak Alvin sambil tersenyum. Kemudian ia berbalik badan, meninggalkan Alvin yang tersenyum senang sambil bergegas melangkah untuk pulang.***


Tubuhku terguncang, dihempas batu jalanan
Hati bergetar menatap kering rerumputan
Perjalanan ini, seperti jadi saksi
Gembala kecil menangis sedih..

Kawan coba dengar apa jawabnya
Ketika dia kutanya mengapa
Bapak ibunya telah lama mati
Ditelan bencana tanah ini.

Rio tersadar akan lamunannya. Kemudian secara perlahan, cairan dari matanya menetes pelan. Mengingat kejadian itu seakan masih berlangsung kemarin.

Rio beranjak menuju sebuah akar raksasa disekitar pohon itu. Ia duduk disana. Melihat lapangan luas dihadapannya dengan cermat. Mencoba menghadirkan sosok sahabatnya disana.


***Ke esokan harinya. Alvin berjalan menunduk menyusuri lapangan itu. Menendang apapun yang menghalangi jalannya. Ia mendongak seketika mendengar jeritan kecil seseorang setelah kaleng minuman itu ditendangnya ke sembarang arah.

“Kamu lagi?” Tanya Alvin tak percaya.

Bocah itu merengut, tapi, sambil berusaha tersenyum karena mengingat seseorang yang membuatnya menjerit kesakitan tadi baru saja meminta maaf kemaren. Alvin merasa bersalah, “Maafin aku lagi ya?” katanya.

“Iya. Tak apa.”

Alvin lega mendengar jawaban tadi. Ia kembali bersemangat. Kemudian, ia mendekati bocah itu yang kembali disibukkan dengan kegiatannya tadi. “Kamu ngapain? Itu apa?” Alvin sempat melirik apa yang sedang digores bocah itu dikertas gambar sebelum bocah itu mendekapnya erat. “Wah, gambar rumah ya? Lihat dong!”

“Gak mauuu. Ini jelek!”

“Bagus kok! Aku tadi ngelihatnya bagus. Ayo dong, lihat.” Alvin mencoba memaksa “Kita harus bangga sama apapun hasil karya kita. Kalau hasil karya orang lain, baru kita malu. Itu hasil karyamu kan? Makanya, gak usah malu.. aku ingin lihat!”

“Eh tapi, ini jelek. Aku belum terlalu mahir..”

“Gak apa. Kita kan emang masih kecil? Boleh aku lihat ya?” Alvin memelas. Tangannya menengadah ke arah bocah itu, masih berharap bocah itu memperlihatkan gambarannya.

“Iya deh, ini.” Bocah itu akhirnya memberikan gambarannya ke Alvin.

Alvin terlihat kegirangan. Tiba-tiba ia berhenti bersorak. Mengagumkan. Sketsa rumah yang sangat indah, yang belum pernah ia lihat berada ditangannya. Mulutnya menganga tak percaya, bagus sekali gambaran yang belum seberapa jadi ini.

Sebuah rumah sederhana, tetapi elegan itu digambar oleh bocah seumurannya. Dibelakang gambar itu ada sebuah gambar pantai yang airnya pasang. Matahari terbenam disebelah barat itu pun menambah keelokan pemandangan alam dua dimensi itu. Senyuman Alvin mengembang “Emezing! Ini gambaran terbagus yang pernah aku lihat.” Katanya kagum.

“Terimakasih ya. Kamu orang pertama setelah mama dan papaku yang bilang begitu.” Bocah itu mau tak mau memapang senyum diwajahnya, kemudian ia meneruskan, “Oh iya, nama kamu siapa?”

“Iya sama-sama.” Jawab Alvin. “Nama aku Alvin. Kamu sendiri?”

“Mario. Panggil aja Rio.” Rio tersenyum tatkala melihat Alvin tersenyum juga. “Eh, karena kamu teman pertama aku, jadi aku bakalan tulis nama kamu di…” rio berfikir sambil mencari-cari sesuatu yang tepat umtuk menuliskan nama mereka berdua.

“Pohon itu aja!” tunjuk Alvin. “Biar aku yang nulis ya? Pinjem pulpen kamu tapinya, hehe”

“Boleh. Ini.”***

Sesampainya dilaut
Ku kabarkan semuanya
Kepada karang, kepada ombak, kepada matahari.
Tetapi semua diam, tetapi semua bisu.
Tinggal aku sendiri
Terpaku menatap langit.

Rio tersadar lagi. Bayangan yang dibentuk matanya menjadi buram, karena cairan bening dimatanya mulai mengumpul dan segera meneteskan butiran bening itu lagi. Tetapi semua itu rela ia tahan. Karena ia tak ingin kepedihan itu terulang lagi.

Rio berjalan pelan sampai keluar dari area lapangan. Tak jauh dari sana, ia berhadapan langsung dengan laut berombak tinggi. Sepi. Sunyi. Pikirannya mulai ke masa lalu lagi, pantai ini, pantai yang dimana ia menghabiskan waktu bermain lebih lama dengan sahabatnya, Alvin.

“Gue disini, Vin. Ditempat pertama kalinya lo ajak gue main selain dilapangan. Lautnya masih indah, masih tetap liar.” Katanya lirih. Rambutnya berkibar tak karuan, karena pengaruh angin sangat kencang.

***”Kita mau kemana sih? Gak perlu pakai tutup mata juga kali.” Omel Rio kepada Alvin yang tak memperdulikan ocehannya. Alvin hanya tersenyum misterius sambil menuntun Rio berjalan, karena mata Rio tertutup oleh kain pemberian Alvin.

Setelah Rio tak disuruhnya melangkah lagi, itu artinya mereka sudah sampai ditempat tujuan. “Buka deh penutupnya!” seru Alvin.

Rio membukanya cepat karena penasaran. Rambutnya yang hitam itu berantakan tak karuan. Ia mengumpulkan penglihatannya karena masih buram berkat pengaruh penutup mata tadi. Setelah matanya selesai mengumpulkan bayangan, “KEREEENNNNNN” ia berteriak. Lepas.

“Ini tempat main kita yang kedua, yo! Jadi, kalau kamu mau cari inspirasi buat gambar bisa lebih tenang disini. Soalnya, jarang ada anak-anak yang dibolehin main ke sini.” Kata Alvin panjang lebar.

“Oke juga pilihan kamu, Vin!”

“Alvin, gituu. Eh, duduk yuk! Aku pegel.”

“Ayuk deh..”

Saat itu, matahari yang tadinya diatas mulai tenggelam ke peraduan. Kedua bocah itu serius menatap langsung laut lepas yang menghubungkan salah satu pulau di Indonesia dengan Negara Malaysia. Indah. Satu kata yang memang tepat untuk diutarakan oleh perasaan.

“Cita-cita kamu pelukis ya?” Tanya Alvin secara tiba-tiba.

Rio menggeleng cepat. “Bukan, cita-cita aku itu jadi arsitek. Makanya aku suka gambar rumah-rumah. Tapi biasanya aku suka paduin gambar rumah aku sama pantai ataupun laut. Gak tahu kenapa, rasanya itu lengkap.” Jawab Rio. “Kalau kamu apa, Vin?”

“Aku?” Alvin terkaget. Rio hanya menjawab dengan anggukan. Saat ini, Alvin bingung menjawab pertanyaan Rio yang tadi. “Aku pengen jadi pelayar. Bisa keliling dunia lewat laut. Terus, bisa jagain Indonesia dari ancaman Negara lain lewat perairannya.” Jawabnya pada akhirnya.

“Pelayar? Gak bahaya?”

“Bahaya? Bahaya kenapa deh? Kalau itu udah jadi cita-cita, gak ada bahayanya kok, kita malah seneng. Kamu juga kan? Arsitek kan juga bahaya? Kalau kamu gak bisa mengira ukuran bangunan sama bahannya, rumah yang kamu bangun akan runtuh. Iya kan?” kata Alvin. Ekspresi wajahnya biasa, tapi jawabannya cerdik, secerdik orang-orang dewasa.

“Iyasih, hehe..”

“Mau janji sama aku gak yo?”

“Janji? Apa?” rio mengerutkan keningnya.

“Kalau kita besar nanti, kamu pasti akan ninggalin pulau ini untuk ngejar cita-cita kamu yang lebih tinggi daripada aku ini ke luar pulau. Jadi, Aku mau kamu janji sama aku, sama pulau ini juga, kalau kamu sukses, kami harap kamu masih ingat sama kami. Karena inspirasi yang kamu dapat juga dari pulau ini, kota ini.  Jadi, kamu gak boleh lupa.” Jawab Alvin.

“Aku pasti gak bakalan lupa kok, sama kamu juga gak bakalan lupa..” kata Rio polos “Janji”. Alvin menoleh sekilas, mengeluarkan senyuman diwajahnya. Kemudian ia berkonsentrasi kembali melihat pergerakan matahari. “Kamu pasti bisa ke luar pulau juga kok Vin, cita-cita kamu juga sama tingginya kayak aku kan?”

“Iya sih, tapi aku lebih mengabdi ke pulau ini aja. Pulau Sumatra. Aceh. Entah kenapa. Cita-cita aku satu lagi adalah, bikin Aceh makmur, yo” Kata Alvin lugu. “Selamat berjuang ya, Mario!”***
.
Barangkali disana ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana
Mungkin Tuhan mulai bosan
Melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan
Bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang..

10 tahun Rio meninggalkan Aceh untuk Jakarta, untuk cita-citanya. Ia juga telah mendapatkan gelar sebagai insinyur muda se Indonesia. Pada tanggal 26 desember 2004, terdengar kabar bahwa Aceh sedang terjadi bencana, tepatnya tsunami. Dan hampir semua penduduk meninggal, apalagi yang bertempat tinggal disekitar laut Aceh.

Saat itu juga Rio menjadi tertekan, terkejut, dan tak percaya. Padahal tinggal 5 tahun lagi ia akan kembali ke Aceh, membangun rumah-rumah desainannya disana. Berkumpul kembali bersama Alvin, teman sekaligus sahabatnya itu. Mewujudkan perjanjian mereka. Tapi bagaimana mungkin, takdir berkata lain.

Kini 5 tahun itu berakhir, dan tanpa kecuali, ia harus segera datang ke Aceh, untuk mewujudkan perjanjian sederhana itu “Jangan lupakan Aceh.”

Rio menatap rapuh laut Aceh yang sedang pasang. Andaikan semuanya bisa diulang, ia akan menyelamatkan Alvin, sumber inspirasinya itu. “ANDAIKAN LO MASIH DISINI, SAMA GUE, PASTI LO BANGGA VIN. GUE UDAH DAPET CITA-CITA GUE YANG ITU. SEKARANG, GUE HARUS WUJUDIN CITA-CITA LO BUAT ACEH. GUE JANJI VIN.” Teriaknya kepada laut yang menatapnya hampa. Tak ada lagi kejahilan yang mengusiknya, tak ada lagi motivasi-motivasi polos yang diucapkan oleh bocah berumur 5 tahun, 15 tahun lalu, karena sahabatnya. Alvin, meninggalkannya bersama tsunami itu. Selamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar