Jumat, 25 Maret 2011

Diary - Part 3 -

Diary part 3


Kegelapan. Kebanyakan orang pada umumnya takut apabila mendapati ruangan yang ditempatinya menjadi gelap tak ada cahaya sedikitpun masuk kedalamnya. Kegelapan seakan bisa membunuh seseorang yang hatinya kecil tetapi besar akan rasa takut.

Aku membuka mataku perlahan untuk menemukan cahaya yang hilang itu. Sedikit, sedikit, dan akhirnya menyatu menjadi sebuah bayangan. Bayangan ini belum terkumpul sempurna sehingga aku melihat seperti ada banyak kunang-kunang mengerubungi pandanganku.

Kemudian bayangan itu pelan pelan menyatu. Aku memandangi isi ruangan ini. Ini seperti ruangan UKS. Iya, ini UKS sekolah. Lalu, kenapa aku bisa berada diruangan ini? Apa yang aku lakukan sehingga aku masuk ke ruangan dimana tempat beristirahatnya siswa SMA Citra Bangsa yang sedang sakit?

Seseorang tidur pulas disampingku. Wajahnya membelakangiku. Apakah dia yang menjagaku disaat aku tidak sadarkan diri. Aku goyangkan pelan tubuhnya.

“hey” kataku

Sepertinya goyangan kecil dariku membawa pengaruh untuk dirinya. Dia mulai bangun meskipun nyawanya belum sepenuhnya mengumpul. Ia mengucek pelan matanya. Kemudian mengambil kacamata yang ia taruh disekitar meja tempat tersusunnya rapi obat-obatan. Lalu, dikenakannya kacamata itu.

“Sivia?” tanyaku meraba.

“iya. Gimana keadaanmu, Shill?”

“lumayan baik. Oh iya, aku kenapa ya Vi?”

“sebaiknya, kamu minum obat dulu deh.” Kata Sivia mengabaikan pertanyaanku. Kemudian ia sodorkan pil obat ke mulutku dan memberiku air untuk membantu melancarkan perjalanan pil tersebut mengelilingi tubuhku.

Ia membantuku duduk diatas kursi. Lalu, Sivia kembali menyibukkan dirinya sendiri diruangan itu untuk mencari sesuatu yang memang tak ada diruangan ini. Sepertinya, ia menghindar dari pertanyaanku tadi.

Tak lama, ia datang membawa selimut tebal. Ia menyelimuti tubuhku yang mungil dengan itu. Saat Sivia hendak pergi lagi, dengan segera aku tahan tangannya. Sivia berusaha keras melawannya, tetapi kekuatan tanganku tak bisa ia taklukkan. Wajah Sivia tiba-tiba menunduk pasrah, disusul ia duduk diatas kasur dan berhadapan langsung denganku.

“aku kenapa, Vi?” tanyaku sekali lagi.

“kamu pingsan ditoilet”

Pingsan? Toilet? Aku ingat! Setelah membaca tulisan aneh itu, tiba tiba aku tak sadarkan diri.

“kamu melihatnya?” tanyaku pada Sivia.

“melihat? Melihat apa?”

“tulisan! Tulisan merah dikaca toilet waktu itu!”

Sivia kembali terdiam. Sebelumnya ia melototkan matanya karena terkaget mendengar perkataanku barusan. Sepertinya benar, ia tahu masalah diary itu.

“aku mohon sama kamu Sivia! Beritahu aku walaupun itu hanya sedikit. Sekali aja Vi. Aku, aku, aku bingung sama jalan hidup aku sekarang, setelah diary itu muncul! Aku mohon..”

“diary?” Tanya Sivia.

“iya, diary! Kamu tahu kan, Vi? Aku mohon!! Sekali. Sekalii aja sama kamu, beritahu aku soal ini. Aku janji, aku gak bakal ganggu kehidupan kamu lagi. Aku mohon, Vi. Aku mohoon..”

Aku tak tahu, tiba-tiba Sivia menguatkan genggamannya pada tanganku. Mukanya datar. Tapi tatapan takutnya tak akan bisa membohongiku. Ia ingin melontarkan sebuah kata, tetapi ia dipaksa bungkam. Entah siapa yang memaksanya.

“kamu orang terpilih, Shill,”

Tidaklah kalian bingung menanggapi kata Sivia yang ini? Ini sama sekali tak membuatku sedikit membantu, justru makin membuatku bingung. Tapi, Sivia mengambil nafas sedalam mungkin, berusaha mencari aura ketenangan untuk menceritakan hal ini padaku.

“kamu yang nemuin diary itu. Kamu yang membacanya, dan kamu yang harus nanggung akibatnya. Kamu terpilih karena diary itu melihat kekuatan jiwamu. Dia hanya berfungsi apabila melihat ada kekuatan hebat disamping sebuah raga yang terkesan lemah. Kisahmu akan dimulai Shill. Maaf, aku hanya bisa Bantu kamu sampai sini..”

Sivia cepat-cepat pergi, tak lupa membawa baki berisi obat-obatan untukku tadi. Ia terburu buru sehingga tak memperhatikan ada seseorang yang langsung masuk kedalam pintu UKS tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Isi daripada baki itu jatuh kelantai bersamaan dengan tabrakan kecil tadi. Seseorang yang menabraknya itu membungkuk, berusaha membantu Sivia menata obat-obatan yang jatuh lagi. Kemudian mereka berdiri bersamaan.

“Maaf..” suatu kata yang terlontar dari mulut kak Alvin.

“Gak apa..” jawab Sivia berusaha tersenyum.

“Makanya, kalau jalan jangan keburu-buru.”

“Dan makanya, kalau mau masuk, ketuk pintu atau ucapin salam dulu..” kata Sivia ketus. Kemudian meninggalkan ruang UKS bersamaan dengan wajah cengo yang keluar dari muka kak Alvin. Aku mengikik pelan.

“diem lu!” cibir kakak.

“hahaha. Makanya, jangan sok kenal dulu sama dia. Gue aja takut kalau ngomong sama dia”

“emang dia siapa sih? Temen sekelas lo?”

“Iya..” jawabku singkat.

“Namanya? Namanya siapa?”

“Yee! Tanya aja ndiri. Peduli amir sama lo”

“pelit lu ah!”

“kenapa?? Naksir yaa?? Acieee..” godaku mampu membuat kak Alvin tersenyum menahan rasa malunya.

“kagak! Cuma sayang aja, cantik cantik galak..”

“husss! Gak boleh ngomong kaya gitu kak. Kalau gak ada dia, gue gak bakalan sembuh..”

“iyadeh. Eh, btw kenapa lu sampe ke ruang UKS sih? Padahal lo kan habis makan! Jangan jangan, lo cari alesan ya buat gak ikut pelajaran?”

“enak aja! Gue pingsan beneran kali. Udah, gak usah dibahas!”

Kamu yang nemuin diary itu. Kamu yang membacanya, dan kamu yang harus nanggung akibatnya. Kamu terpilih karena diary itu melihat kekuatan jiwamu. Dia hanya berfungsi apabila melihat ada kekuatan hebat disamping sebuah raga yang terkesan lemah.

Kata itu keluar dalam pikiranku sesaat setelah kak Alvin menanyakan hal itu. Suasana UKS dengan cepat berganti dengan suasana hening. Suasana hening itu segera memudar saat kak Alvin menyadarkan lamunanku. Ia mengajakku untuk pulang karena memang sudah waktunya untuk siswa/i sekolah untuk pulang.

Aku mengangguk setuju, kemudian menyambar tasku yang sudah dibawakan kak Alvin tadi disamping tempat tidurku. Kami pulang menuju parkiran mobil.

*

Lagi lagi diary itu menggodaku. Menggodaku yang sedang belajar dikamar untuk membuka isinya. Memang rasa penasaranku besar untuk mengetahui isinya, tapi dengan sekuat tenaga aku menolaknya dengan kasar. Jangan! Jangan ganggu hidup gue!

“kamu yang nemuin diary itu. Kamu yang membacanya, dan kamu yang harus nanggung akibatnya. Kamu terpilih karena diary itu melihat kekuatan jiwamu. Dia hanya berfungsi apabila melihat ada kekuatan hebat disamping sebuah raga yang terkesan lemah”

Kata itu menghantuiku. Percuma saja aku menolak untuk tak membacanya, karena berdasarkan petunjuk Sivia tadi kalau sudah membacanya, maka aku tak bisa lepas dari diary itu.

Aku memberanikan diriku untuk membuka laci berisikan diary terkunci. Aku menghela nafas lega melihat diary itu masih ada disana. Aku mengambilnya, kemudian membawanya duduk diatas tempat tidurku. Aku membukanya, kemudian terlarut membacanya.



Senin, 14 juli 2008

Aku memasuki sekolah baruku yang megah. Aku senang melihat dimana aku sekolah sekarang. Aku juga senang bisa menjauh dari teman-teman yang dulu mengejekku. Aku senang karena seseorang kakakku selalu menjagaku sampai saat ini..
Haha, mata tajam itu, sebuah mata yang aku tak pernah temukan sekali pun, aku suka, aku suka mata indah itu. Siapa kamu? Eh?
Dan entah mengapa, tibatiba saja hari ini aku tak sadarkan diri disekolah baruku. Padahal semalam aku baik baik saja. Hari yang aneh, bukan?


Aku tersentak, kututup lalu kubuang langsung diary itu menjauhiku. Hal itu, hal yang aku lakukan seharian ini. Bagaimana bisa seseorang dimasa lalu itu meniru persis kejadianku? Apakah kata Sivia benar? Kisahku akan dimulai lewat diary itu, tapi itu mustahil. Sangat mustahil. Tuhan, Bantu aku..

.

Selesai!! Hehehehe,,
Nih, buat AlviaNH. Sivia sama Alvin sudah saya pertemukan keduanya, tinggal disuruh ngapain ya ntu orang berdua? Yaa mana saya tahu, terserah jalan otak saya yaa.. Hehe
Oh iya, mohon do’anya yaa.. Besok senen sampe sabtu aku mau Ujian Sekolah, janji deeh kalau udah selesai, langsung dipost part 4 nya ^^v *siapajugayangnungguin*

Maaf juga kalau ceritanya makin gak jelas -,-v
Keep comment ya semuanyaa.. Hehehe..

Adios!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar