Diary
Aku terbangun dari tidur pulasku. Menatapi sekitarku. Aku berada disebuah daerah yang asing denganku. Aku tak tahu ini dimana. Sebelum aku beranjak, ku renggangkan otot ototku terlebih dahulu yang sedari tadi kaku.
Aku turun dari mobil. Aku menatap sekitarku, masih meneliti dimana keberadaanku. Hanya sebuah rumah besar, megah, bercatkan warna putih yang tertangkap dimataku. Rumah ini sepertinya sudah lapuk dan tua, tetapi masih terlihat layak untuk dihuni.
“hey! Buruan masuk!” celetuk seseorang dari dalam rumah itu. Ah, itu kakakku. Alvin . Ternyata ini masih didunia nyata. Aku kira aku sudah berada didunia lain yang hanya ada aku seorang disini. Aku menganggukkan kepala ke arah kak Alvin , dan berjalan memasuki rumah itu.
Hari ini, aku baru ingat kalau papa mama mengajakku pindah rumah. Tadi aku ketiduran didalam mobil yang mengangkut kami menuju kediaman baru kami, karena jarak antara keduanya memakan waktu yang sangat lama.
Kedua kalinya, aku dibuat terkejut oleh rumah ini. Bagus. Banyak barang antic terpajang disini. Meski laba-laba telah banyak membuat sarangnya, tetap saja tak bisa menghilangkan betapa antiknya sebuah rumah yang mulai detik ini resmi menjadi milik keluarga kami.
Kupandangi apa yang bisa aku pandang. Aku tak ingin melewati satu benda pun yang tertata rapi terhalang oleh langkah kakiku yang terbiasa cepat untuk berjalan. Langkahku terhenti seketika saat aku berada ditempat terpojok dari lantai dasar ini. Pintu masuk ruangan tersebut sangatlah unik dan aneh, beda dari pintu yang biasanya. Aku tertarik untuk memasuki ruangan ini, barangkali dalamnya lebih unik lagi?
Meleset. Tak ada apa apa diruangan ini. Kosong. Tapi.. lemari kecil yang berada dipojok ruangan ini menggodaku. Lemari itu seakan menarik tubuhku agar mendekatinya. Karena rasa penasaran memenuhi pikiranku dan kekuatan kakiku yang membuatku menurut untuk mendekat, aku terpaksa menuruti keinginannya.
Sebelum langkah kedua diciptakan oleh kakiku, aku berbalik badan. Kulihat kembali pintu unik itu. Membuatku sadar. Mengapa aku berada didalam ruangan ini? Saat ku balikan badan lagi menatap lemari itu, rasa penasaranku semakin membesar. Seolah kutup utara bumi menarik kutub selatan pada kompas yang menghasilkan sudut deklinasi dan inklinasi. Aku menghembuskan nafas yang lumayan panjang. Akhirnya, kuputuskan untuk melihat apa yang ada didalam sana . Mengabaikan rasa takut yang tiba-tiba menyerangku tak jelas saat ini.
Aku hembuskan nafas lega saat benda yang membuatku merasakan rasa penasaran yang besar ini tepat berada disampingku sekarang. Aku membukanya perlahan tapi pasti. Aku menemukan sesuatu didalamnya. Aneh. Benda ini hanya ada satu. Satu. Cuma satu. Apakah benda ini sengaja diletakkan sendiri diruangan sebesar ini, sendiri dilemari ini, bertahun tahun pula, tanpa seorang teman disisinya, apa maksud sang empunya benda ini?
Aku mengambilnya perlahan. Membersihkannya dari debu yang bersarang. Mencoba mencermati apa bentuk benda ini yang sesungguhnya.
Ini diary. Diary seseorang yang entah sengaja atau ada maksudnya diletakkan disini. Masih ingin lebih banyak tahu apa dan bagaimana isi diary sederhana berwarna hitam polos ini, aku berusaha untuk membukanya.
Sial. Buku ini terkunci. Sebuah gembok kecil menggantung cantik disamping kanan diary ini. Untuk membukanya, aku mencari kunci disekitar asal tempat diary ini ku temukan. Hasilnya, nihil. Tak ada kuncinya disekitar sini.
Kriyeeeeeeek..
Suara pintu berdecit menghentikan pencarianku dan membuatku terkaget secara bersamaan. Ku lirik dari sini. Kak Alvin akan menghampiriku. Aku bingung seketika, bagaimana aku menyembunyikan hasil temuanku secara dadakan ini tadi. Pasrah. Aku hanya menyembunyikannya dibalik punggung.
“apa itu?” Tanyanya
“emmm.. bukan apa apa”
“Oh. Makan yuk? Udah ditungguin papa sama mama. Gue tinggal ya?” huft. Untung kak Alvin gak sampai Tanya aneh aneh masalah diary ini.
“eh iya. Aku nyusul deh..” jawabku
“oke. Oh iya, barang barang lo udah ditaruh dikamar baru lo dilantai dua. Tapi lo tata sendiri ya. Buruan ke ruang makan! Keburu lauknya abis gue makan lho.. Hehe” kata kak Alvin sembari menepuk puncak kepalaku dengan lembut dan segera meninggalkanku diruangan aneh ini sendirian lagi.
Tanpa basa basi, aku segera menuju ruang makan. Tak lupa ku bawa diary aneh itu.
“Ma? Pa? apa gak aneh? Papa beli rumah sebesar ini dengan harga murah? Jangan jangan rumah ini ada apa apanya lagi! Hii..” kata kak Alvin bergidik.
“huss. Gak boleh gitu, Vin. Aneh aneh aja deh kamu tuh.” Tukas mama.
“habisnya ma, aneh banget. Terus banyak barang antik gak jelas yang penuhin isi rumah ini. Bikin tambah serem aja!”
“Alvin !! Udah, stop! Kita ini lagi makan. Nanti ngomongnya!” tegas papa. Kak Alvin menurut dan mencibir tak ketara.
“Huft.. Gue heran deh sama mama papa..” kata kak Alvin sembari menghempaskan tubuhnya ke sofa yang ku duduki.
“emang kenapa?” tanyaku polos
“masa mereka mau aja beli rumah seaneh ini? Jadi gak betah tau gak.”
“sebenernya..”
“Sebenernya? Sebenernya kenapa dek?”
“eh? Enggak, gak apa. Hehe”
“bohong!”
“emang!” segera kututup mulutku. Huh, latahku kumat tidak pada tempatnya.
“tuh kan ! Sebenernya kenapa sih? Jangan bikin orang penasaran napa! Ayo buruan cerita!” kak Alvin memohon dengan sangat.
“Okelah. Sebenernya-aku-nemu-barang-aneh” jawabku hati hati.
“barang aneh? Apa itu?”
“ikut aku deh kak..”
Kutarik lengan kak Alvin menuju kamarku. Aku akan menunjukkan benda paling aneh dan paling membuatku penasaran yang kutemukan dirumah ini. Diary terkunci itu.
“he’? apaan ini? Kayak diary gini sih?” Tanya kak Alvin bingung.
“yee! Emang itu diary kak!” cibirku kesal.
“Oh. Bener diary? Hehe.. buka yok”
“ini terkunci kak. Dan aku gak punya kuncinya.”
“emang kamu nemu dimana sih?”
“diruangan kosong tadi..”
“yaudah. Kita buka paksa aja gimana?” kata kak Alvin menimbang nimbang
“emang boleh?” aku meragu
“Ya boleh lah adekku sayang. Dibuka paksa aja ya?” katanya sekali lagi. Aku mengangguk setuju.
PRANGGGGG..
Diary itu terbuka. Didalamnya tampak seperti diary pada umumnya. Anehnya, diary ini ditulis dengan sebuah tinta merah seperti darah. Tidak tidak. Aku tidak berniat menakuti kalian. Ini hanya spidol. Kemudian, Aku tertarik untuk membaca tulisan itu.
“Ini..
Diary seseorang yang merasa terasingkan hidupnya
Diary seseorang yang merasa terus disakiti hatinya
Diary seseorang yang merasa kehilangan harapannya
Tapi,
Diary ini berubah menjadi diary yang penuh dengan kebahagiaan.
Karena dia adalah cahaya yang membuat kegelapanku menyingkir
Aku sayang dia
Aku cinta dia
Selamanya..”
Selesai. Maaf ya, aku gak maksud nakutin kalian. Kalau kalian gak suka komen aja gak suka. Saya nanti gak bakalan ngelanjutinnya kalau kalian ga suka. Hehe..
Ini aku masih bingung siapa yang meranin tokoh aku disini. Minta saran kalian dong ICL (=
Keep comment ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar