Diary
“ih, apaan sih ini?!” kata kak Alvin seraya menutup diary itu kasar. Aku tersentak. Kulihat kak Alvin memasukan diary itu ke laci kembali. Kemudian, Ia duduk kembali disampingku, menatapku yang masih menatap serius laci itu.
“hei, udah. Sekarang udah malem, gue gak mau diary itu bikin lo gak konsen ke sekolah besok dek. Sekarang lo tidur! Jangan mikir macem macem. Kalau gitu, gue balik ke kamar dulu ya..” kata kak Alvin. Sebelum pergi, ia membenahi posisi tidurku sebentar. Kemudian dimatikannya lampu yang menerangi kamarku tadi.
Kegelapan ini seakan tak menghalangiku untuk tak melihat laci itu. Aku tertegun melihatnya. Bukan bukan. Bukan lacinya, melainkan sesuatu didalamnya. Terus kupandangi, sampai insomnia singkat itu hilang tergantikan oleh rasa kantuk yang luar biasa.
*
Aku keluar kamar setelah aku yakin tak ada barang yang tertinggal disana. Kuturuni beberapa anak tangga yang menghubungkan lantai atas dan lantai dasar. Aku duduk dimeja makan untuk sarapan bersama keluargaku.
Setelah mengisi perutku pagi ini, aku bersiap untuk pergi ke sekolah baruku bersama kak Alvin. Aku hanya beda beberapa bulan dengannya. Jadi, aku bias sesekolah bahkan satu kelas dengannya.
Entah beberapa kali aku mengatakan perasaan kagumku pada kalian. Baru saja mobil kak Alvin mendarat mulus di parkiran sekolah baru kami “SMA CITRA BANGSA” dan sekolah ini benar benar megah dan luar biasa.
Kak Alvin mencolek lenganku. Menyadarkan aku. Ia menggerakan rahangnya yang kokoh itu kearah luar mobil bermaksud menyuruhku keluar. Aku menuruti kemauannya.
“waw” kataku bebarengan dengan gerakan menutup pintu mobil. Speechless. Tak menyangka bahwa papa mama akan menyekolahkanku di SMA megah ini.
Tiba-tiba rasa kagum itu memudar. Kepalaku sakit. Sempat aku mengerang pelan tak terdengar. Diary. Diary itu dengan cepat menyerang pikiranku. Seperti ada hubungannya diary terkunci itu dengan sekolah ini.
Aura itu seolah seperti angin yang cepat terganti. Aura itu hilang menjadi sebuah aura yang sangat hangat setelah seseorang menggenggam penuh jemari tanganku. Kak Alvin.
“kenapa bengong?”
“. . . . . . .”
“hei?” kak Alvin mengibaskan tangannya kerah mukaku. Akupun sadar dengan segera. Merasakan tangan hangatnya saling berkaitan dengan tanganku.
“maaf kak. Hehe.. Ayok masuk”
“iya gapapa. Yuk..” kata kak Alvin, masih menggenggam tanganku dengan lembut hingga masuk kedalam sekolah itu.
*
“Emm.. Nama saya Ashilla Zahrantiara Sindhunata. Panggil saya Shilla aja. Saya pindahan dari Malang. Salam kenal yaa =))”
Usai sudah kejadian basa basi itu. Sekarang masalahnya dimana aku akan duduk untuk menghadapi pelajaran pertamaku disini.
Aku mencari bangku yang tak terhuni dengan menajamkan penglihatanku. Kebetulan, ada satu bangku yang masih kosong. Disana. Disebelah cewek berkulit putih, berkaca mata yang rambutnya terkuncir rapi itu. Aku melangkahkan kaki menuju kearah bangku disamping gadis itu.
“boleh? Aku duduk?” tanyaku berhati-hati. Gadis itu menatapku dengan tatapan datar. Tanpa ekspresi. Kemudian, ia pindahkan tasnya yang menduduki kursi disampingnya dengan anggun tadi ke kursinya sendiri.
Tanpa basa basi, aku segera duduk disebelahnya. Mungkin gadis ini sedang bad mood sehingga tak memperdulikan percakapan singkat tadi. Tapi, rasanya tak afdhol bukan? Jika kita tak mengetahui nama teman sebangku kita?
“oh iya, nama kamu siapa?”
Mungkin saat ini pertanyaanku benar benar dianggapnya seperti angina yang melewati dirinya seketika. Aku menghembuskan mencibir pelan karena sifatnya padaku yang terlalu tak peduli. Disatu sisi, aku melihat tingkah gadis itu yang sepertinya akan menjawab pertanyaanku barusan.
Tangan gadis itu meraih buku tulisnya yang berada tak jauh disekitar mejanya. Kemudian buku itu digeser kearah mejaku. Telunjuknya mengayun dan menunjuk sebuah gambaran kolom berisikan nama pada buku itu. Seolah ia menyuruhku untuk membacanya. Sivia Azizah.
*
Bel berdering keras sebanyak tiga kali. Menandakan waktu istirahat tlah tiba. Otakku yang sedari tadi terfokus pada pelajaran, kini juga bias beristirahat meskipun hanya sebentar.
“kamu gak ke kantin?” kata itu terlontar dari mulutku seketika melihat Sivia tak bergerak dari duduknya. Tak seperti anak anak lain yang antusias sekali mengisi rasa laparnya, ia tetap memerhatikan buku catatan fisikanya.
Sivia menoleh kearahku. Ia menggeleng cepat. Kemudian terfokus kembali dengan bukunya.
Aku ternganga sejenak. Tak bisakah ia lontarkan satu katapun untuk menghargaiku? Sabar Shill, sabar. Jangan sampai masalah dikampung terulang lagi. Aku membatin sedikit jengkel. Lalu aku segera menuju ke kantin, takut jika waktu istirahat terbuang sia sia.
“hey Shill!” sapa dua orang cowok tiba-tiba ketika aku telah berada diambang pintu kelas. Aku menatap mereka heran. Apakah aku kenal mereka?
“hey juga..” balasku ramah.
“kenalin! Gue Deva. Kalau ini, temen gue, namanya Ozy..”
“hey. Gue Ozy..”
“oh.. Hai Deva! Hai Ozy =)”
“Emm, gini Shill. Lo jangan sakit hati sama tingkah laku Sivia ya! Emang dia dari dulu awal kelas 10 kayak gitu. Kayak orang gak waras.” Kata Ozy bisik bisik.
“Haaah? Gak waras? Maksudnya?” aku menutup mulutku cepat. Latah ini kumat tidak pada tempatnya lagi. Aku tak tahu Sivia mendengar suaraku tadi atau tidak. Dengan cepat, Deva dan Ozy menarikku keluar menjauhi pintu.
“waduh Shill! Bisa diem gak sih? Kalau Sivia sampe tahu nih, kita bakal dibunuh mati-matian sama dia..” kata Ozy jengkel.
“maaf maaf. Aku punya kebiasaan latah. Hehe.” Aku hanya menyengir.
“yaudadeh, pokoknya jangan sampe dia tahu kita ngomong apa! Oke?” kata Deva.
“Okedeeh!!” ujarku meyakinkan. Ozy dan Deva melemparkan senyuman lebar padaku.
Aku melihat dari jauh bahwa kak Alvin melambaikan tangannya kearahku, aku membalas lambaiannya. Kemudian aku meminta ijin pada Ozy dan Deva untuk pergi ke kantin duluan.
Kak Alvin mengacak rambutku yang terurai panjang. Lalu, ia menggenggam tanganku menuju kantin bersama-sama.
Sayang sekali, kak Alvin dan aku tak bisa satu kelas karena jumlah siswa masing-masing kelas hanya mampu menampung satu siswa. Kak Alvin kelas X-B sedangkan aku X-A.
Setelah tiba dikantin, kami memesan makanan dan minuman yang hanya pas untuk kita berdua. Kami menikmatinya sembari menceritakan kejadian kejadian dikelas baru kita.
Tak terasa makanan itu pun habis dalam sekejab. Bersamaan dengan kedatangan dua orang cowok menghampiri kak Alvin. Sepertinya teman barunya. Aku sungguh iri padanya, ia mudah sekali mendapatkan seorang teman, kalau aku? Satupun tak bisa. Aku meneruskan meneguk es jeruk pesananku yang belum habis tadi.
Tak lama, kak Alvin meminta ijin padaku untuk kembali ke kelas duluan. Aku mengangkat kepalaku yang sedari tadi menunduk. Menghargai kepergiannya. Aku mengangguk pelan.
Dia. Dia menatapku. Memandang mataku lekat-lekat. Aku tak tahu maksudnya menatapku seperti itu. Salah tingkah. Tentu, melihat tatapan tajam darinya membuat semua orang salah tingkah.
Tapi, tarikan tangan kak Alvin yang melingkar dileher pemuda itu membuat mata tajamnya itu bergejolak seketika. Mata itu menggambarkan bahwa pemiliknya sedang bingung mengetahui apa yang baru saja ia lakukan. Bibirnya tersenyum kecil, malu, kemudian ia mengikuti langkah kak Alvin yang membawanya pergi. Aku tersenyum geli.
KRRRIIINNGGG KRRINNGGGG KRIINGGGGG
Aku tahu itu bel pertanda bahwa waktu istirahat telah habis. Aku beranjak dari kursi kantin menuju ke ruang kelas.
Langkahku terhenti seketika melewati kamar mandi. Kucium bau telapak tanganku yang ternyata baunya tak sedap sehabis makan tadi. Aku memasuki kamar mandi itu.
Aku mencuci tanganku pada washtaffel hingga benar benar bersih. Kemudian, kulihat pantulan diriku pada cermin yang terpajang disana. Memandangi diriku sendiri dengan seksama. Tak ada yang aneh. Tapi, kenapa pemuda itu begitu lekat memandangiku?
Lama kelamaan cermin itu mengeluarkan sesuatu. Semacam tinta berwarna merah darah seperti tulisan awal diary itu. Semakin banyak, tinta itu membentuk sebuah huruf, berubah menjadi kata, kemudian merangkai sebuah kalimat.
BACALAH DIARY TERKUNCI ITU! BAGAIMANAPUN CARANYA! BACA!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar