Kamis, 08 September 2011

Plester Penyelamat (KaitoxAoko)


~Plester Penyelamat (Fan Fiction)~


Namaku Nakamori Aoko. Teman dan keluargaku memanggilku Aoko. Aku adalah gadis berusia 16 tahun yang masih duduk di bangku SMU kelas 2. aku bersekolah disalah satu sekolah terbaik di Jepang. Namanya SMU Taitan.

Saat ini, aku sedang menunggu kendaraan umum yang akan mengantarku pulang nantinya. Tiba tiba ada sesuatu yang menjanggal dalam hatiku. Ada suatu barang yang tertinggal.

Aku mulai tak tenang. Lalu, ku buka tasku dan mencari barang itu. Kemudian, aku teringat sesuatu. Oh iya! Handphone. Sedari tadi aku tak memasukkan handphone ke dalam tasku. Tanpa basa-basi, aku segera meninggalkan halte, dan berlari ke dalam kelas.

Suasana sekolah tampak begitu sepi. Sepi sekali. Karena, 2 jam lalu, murid-murid telah dipulangkan. Hanya sebagian anak yang mengikuti ekstrakurikuler tambahan tampak sibuk membereskan barang bawaannya.

Aku membesarkan langkahku ketika memasuki koridor-koridor kelas yang sudah sepi orang itu. Aku takut. Benar-benar takut.

Akhirnya, pintu kelasku sudah ada di depan mata. Dengan girang, aku memasukinya. Setelah masuk, aku tengok kanan dan kiri. Tak ada siapa-siapa. Tanpa berpikir panjang, aku segera berlari menuju bangkuku, dan segera mencari barang berharga yang ada didalam kolong meja.

Ketemu.

Handphone yang ada gambar buah apel dibaliknya itu kini kumasukkan kedalam kantong kemejaku. Sambil bernafas lega, aku meninggalkan ruangan yang mulai gelap itu.

Kali ini dengan berlari, aku mulai melewati koridor-koridor tadi, melewati lapangan basket, dan melewati lapangan bola agar bisa keluar dari sekolah dengan cepat. Dan sialnya, sepatuku licin terkena air hujan, aku terpeleset didepan lapangan bola.

“Aww..” rintihku sambil menahan sakit disekitar lutut. Aku menengok lututku. Berdarah. Aku mulai menangis. Aku paling takut bila ada darah yang keluar dari tubuhku.

“Jangan menangis..” ujar seseorang yang kini berjongkok disampingku. “Pakailah.” Katanya sambil memberikan sebuah plester unik padaku.

Aku mengambilnya sedikit galak. Takut, jika orang itu berbuat macam-macam padaku.

Orang itu seakan tersenyum hangat padaku. Wajahnya yang terkena semburan langit sore tampak begitu menawan. Sayang, dia memakai topi untuk melindungi kepalanya. Jadi, aku tak bisa mengenali pemuda tampan itu.

Pemuda itu segera pergi meninggalkanku yang masih duduk menahan perihnya luka dilututku. Kemudian aku segera tersadar, aku tak boleh berlama-lama disini. Aku pun segera menempelkan plester itu pada lukaku dan segera berdiri sambil berjalan, tak berlari lagi.

Keesokan harinya, aku menceritakan kejadian kemarin kepada Ran, sahabatku, dikantin sekolah. Ran tampak sangat kaget saat mengetahui bahwa aku nekat memasuki sekolah yang telah sepi itu. Aku meresponnya dengan senyuman biasa. Kemudian, aku mulai menceritakan sosok pemuda misterius yang menolongku. Dan kali ini, Ran tertarik untuk mendengarkannya..

“Apa kau yakin, kalau dia itu manusia?” tanya Ran khawatir.

“Yakin. Buktinya, sampai saat ini, plester itu belum hilang dari lututku.” Jawabku sambil memamerkan plester itu pada Ran.

“Plester yang unik.” Celetuknya. Memang, plester ini unik. Ada banyak gambar burung merpati putih disana. Tapi dari kemarin, aku menatapnya seperti plester biasa saja. Tak ada unsur uniknya sama sekali.

“Sebelumnya, aku pernah melihat plester ini. tapi aku lupa dimana aku melihatnya.”ucapku tak yakin.

“Yasudah, jangan dipikirkan. Toh, itu hanya plester.” Kata Ran mencairkan suasana. Aku hanya mengangguk. “Lain kali, jangan lupa ambil handphone dikolong meja sebelum pulang. Nanti bisa celaka lagi.” Lanjut Ran.

“Iya iya.”

“Ran! Aoko!” seru seseorang memanggil nama kami berdua. Ternyata, dia adalah Sonoko. Ketua PMR disekolah kami. “Kalian mendapat tugas untuk berjaga di UKS saat pertandingan bola nanti sore berlangsung. Jadi, kalian yang akan merawat pemain bola yang terkena cedera. Bisa, kan?” lanjut Sonoko.

“Nanti sore?” ulang Ran.

“Iya. Nanti sore.” Jawab Sonoko.

“Baiklah, kami bersedia.” Ujarku seraya tersenyum pada Sonoko dan Ran.

Sonoko tampak lega “Terimakasih ya.” Katanya bahagia dan segera meninggalkan kami berdua. Pulang sore lagi deh, keluhku dalam hati.

Sore ini adalah waktu dimana pertandingan bola berlangsung. SMU Teitan melawan SMU Kaiho. Dua klub bola asal kedua sekolah tersebut sama kuatnya. Jadi, pertandingan ini adalah pertandingan yang sangat seru.

Pada menit ke 40, sang wasit meniupkan peluit kencang-kencang. Pelanggaran terjadi.

Semua penonton, termasuk aku, segera menengok ke tempat kejadian itu berlangsung. Pelanggaran yang dilakukan oleh Hattori Heiji, pemain gelandang SMU Kaiho terhadap Kuroba Kaito, striker SMU Teitan.

Lapangan mulai panas. Dan akhirnya, sang wasit memutuskan untuk memberikan tuan Hattori kartu kuning, karena melihat luka tuan Kuroba yang lumayan parah. Hal itu menambah panasnya suasana. Sebagian pendukung SMU Kaiho, tampak tak senang dengan keputusan wasit.

Tuan Kuroba segera dibopong menuju ruang UKS. Aku dan Ran yang melihat kejadian itu, segera bersiap untuk memberikan pertolongan pada Kuroba.

Aku bergidik takut ketika melihat banyak darah disekitar betis tuan Kuroba. Ran memberiku obat antiseptic yang siap dioleskan pada luka itu. Tapi aku hanya diam. Aku diam sambil menatap luka yang dibentuk pada betis pemuda dihadapanku.

“Hei. Kau kenapa? Cepat oleskan obat itu pada lukaku!” suara tuan Kuroba membuyarkan lamunanku.

Aku menatap matanya dengan perasaan takut. Iya, takut dibentaknya lagi. Aku kembali terdiam.

“Mengapa kau hanya diam sambil menatapku? Jangan jangan, kau takut darah, ya?” terka Kuroba sambil menahan tawanya.

Aku tertunduk kelam menahan rasa malu.

“Sudah, berikan tugas itu pada kawanmu saja.” Kata Kuroba membuatku berani menatapnya lagi. Aku mengangguk setuju dan memberikan obat itu pada Ran.

Ran mengolesi luka milik tuan Kuroba dengan telaten. Tidak sepertiku. Aku jadi iri padanya, menyadari bahwa aku tak bisa tahan melihat darah, padahal, menjadi perawat adalah cita-citaku.

Setelah selesai, Ran berjalan ke arahku. Ia membisikkan sesuatu ditelingaku. “Kuroba ingin berbicara padamu.” Aku menelan ludah sambil menatap Ran heran. Ran hanya mengangkat kedua bahunya, sambil menatapku seolah berkata aku-tidak-tahu-apa-apa.

Aku berjalan dengan hati-hati mendekati tuan Kuroba. “Ada apa?” tanyaku kemudian.

“Darahnya sudah dibersihkan. Sekarang, kau bisa merawatku.” Jawab Kaito.

“Merawatmu? Apa lagi yang perlu dirawat?” tanyaku lagi.

“Bodoh. Luka kecil disekitar kakiku itu belum diberi plester.”

“Oh iya. Sebertar, aku ambil plester dulu.”

“Tak perlu!” sergah tuan Kuroba.

Aku berbalik badan. Menatapnya dengan penuh tanda tanya.

“Pakai plesterku saja. Ini..” ujarnya sambil memberikan beberapa plester padaku.

Aku terdiam lagi. Bukan karena plester itu ada darahnya, melainkan, plester itu sama dengan plester yang diberikan pemuda misterius padaku kemarin sore.

Kemudian aku teringat sesuatu.

Iya. Aku ingat dimana aku melihat plester yang sama. Plester itu selalu dikenakan tuan Kuroba dipipi bagian kirinya. Entah untuk apa.

“Kenapa diam lagi? Kau tak bisa menempelkan plester itu juga? Lantas, kau bisa apa?” ujar Kuroba sedikit kesal.

“Kau yang memberiku plester ini kemarin?” tanyaku segera berganti topik.

“Kemarin?”

“Iya. Kemarin sore. Aku terjatuh tepat didepan lapangan bola karena lantainya sangat licin. Aku menangis melihat lututku terluka. Lalu, kau memberiku sebuah plester..”

“Kau gadis kemarin itu?”

“Benar.” Kataku berbinar. “Oh iya, terimakasih untuk plesternya. Kemarin, aku tak sempat berucap itu padamu. Hehe..” lanjutku malu-malu.

“Tidak masalah. Aku senang menolongmu.” Ujar Kuroba dengan sebuah senyum diwajahnya. “Dan sekarang, tugasmu adalah, menempelkan plester itu pada luka-luka kecil disekitar kakiku.” Ucapnya seraya menyindir padaku yang tak kunjung menempelkan plester itu pada lukanya.

“Oh iya. Aku lupa. Baiklah, tuan Kuroba..”

“Apa kau bilang? Tuan Kuroba?”

“Iya. Apakah itu salah?” tanyaku berhati-hati.

Kuroba menahan tawanya lagi. Tampak menyebalkan. Tapi aku suka melihatnya. Karena dia terlihat tampan.

“Panggil aku Kaito saja. Jangan Kuroba, Nakamori..”

“Oh, hehehe. Baiklah, Kaito?” ucapku tak yakin. Tapi, Kaito tersenyum lagi padaku. “Tunggu! Kau tahu namaku?” aku tampak tak percaya dengan apa yang Kaito ucapkan sebelumnya.

“Tahu lah. Karena aku tertarik padamu dari dulu.” Katanya dengan berwibawa. Tiba-tiba seperti ada kupu-kupu yang menggelitik perutku. Kaito bilang apa? Dia bilang, kalau dia tertarik padaku? Aku mulai merasakan wajahku merah padam. Aku tak bisa berbicara apapun.

“Kalau begitu, panggil aku dengan nama Aoko saja. Supaya lebih akrab.” Ujarku kaku. Aku tak bisa bagaimana mengekspresikan perasaan ini. haruskah aku bergembira? Haruskah aku memeluk Kaito? Haruskah aku marah pada Kaito yang membuat mukaku padam? Ah. Aku tak tahu.

Aku pun segera menempelkan plester itu pada luka-luka kecil disekitar kaki Kaito. Mendadak, ruangan UKS tersebut sangat sunyi. Karena, dua orang didalamnya sibuk mengatur detak jantung mereka yang mulai berjalan tak terkendali.

===

SELESAI!
Nyahahaha. Bagaimana pendapat kalian? Aneh ya? Yaah beginilah karya tulis saya. Garing bin krik begini. Oleh karena itu, jangan segan-segan memberikan komentar, kritik, dan saran pada cerita ini. hehe. Ditunggu yah =D

Sayonara~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar