~Plester Penyelamat (Fan Fiction)~
Namaku Nakamori Aoko. Teman dan
keluargaku memanggilku Aoko. Aku adalah gadis berusia 16 tahun yang
masih duduk di bangku SMU kelas 2. aku bersekolah disalah satu
sekolah terbaik di Jepang. Namanya SMU Taitan.
Saat ini, aku sedang menunggu kendaraan
umum yang akan mengantarku pulang nantinya. Tiba tiba ada sesuatu
yang menjanggal dalam hatiku. Ada suatu barang yang tertinggal.
Aku mulai tak tenang. Lalu, ku buka
tasku dan mencari barang itu. Kemudian, aku teringat sesuatu. Oh iya!
Handphone. Sedari tadi aku tak memasukkan handphone ke dalam tasku.
Tanpa basa-basi, aku segera meninggalkan halte, dan berlari ke dalam
kelas.
Suasana sekolah tampak begitu sepi.
Sepi sekali. Karena, 2 jam lalu, murid-murid telah dipulangkan. Hanya
sebagian anak yang mengikuti ekstrakurikuler tambahan tampak sibuk
membereskan barang bawaannya.
Aku membesarkan langkahku ketika
memasuki koridor-koridor kelas yang sudah sepi orang itu. Aku takut.
Benar-benar takut.
Akhirnya, pintu kelasku sudah ada di
depan mata. Dengan girang, aku memasukinya. Setelah masuk, aku tengok
kanan dan kiri. Tak ada siapa-siapa. Tanpa berpikir panjang, aku
segera berlari menuju bangkuku, dan segera mencari barang berharga
yang ada didalam kolong meja.
Ketemu.
Handphone yang ada gambar buah apel
dibaliknya itu kini kumasukkan kedalam kantong kemejaku. Sambil
bernafas lega, aku meninggalkan ruangan yang mulai gelap itu.
Kali ini dengan berlari, aku mulai
melewati koridor-koridor tadi, melewati lapangan basket, dan melewati
lapangan bola agar bisa keluar dari sekolah dengan cepat. Dan
sialnya, sepatuku licin terkena air hujan, aku terpeleset didepan
lapangan bola.
“Aww..” rintihku sambil menahan
sakit disekitar lutut. Aku menengok lututku. Berdarah. Aku mulai
menangis. Aku paling takut bila ada darah yang keluar dari tubuhku.
“Jangan menangis..” ujar seseorang
yang kini berjongkok disampingku. “Pakailah.” Katanya sambil
memberikan sebuah plester unik padaku.
Aku mengambilnya sedikit galak. Takut,
jika orang itu berbuat macam-macam padaku.
Orang itu seakan tersenyum hangat
padaku. Wajahnya yang terkena semburan langit sore tampak begitu
menawan. Sayang, dia memakai topi untuk melindungi kepalanya. Jadi,
aku tak bisa mengenali pemuda tampan itu.
Pemuda itu segera pergi meninggalkanku
yang masih duduk menahan perihnya luka dilututku. Kemudian aku segera
tersadar, aku tak boleh berlama-lama disini. Aku pun segera
menempelkan plester itu pada lukaku dan segera berdiri sambil
berjalan, tak berlari lagi.
Keesokan harinya, aku menceritakan
kejadian kemarin kepada Ran, sahabatku, dikantin sekolah. Ran tampak
sangat kaget saat mengetahui bahwa aku nekat memasuki sekolah yang
telah sepi itu. Aku meresponnya dengan senyuman biasa. Kemudian, aku
mulai menceritakan sosok pemuda misterius yang menolongku. Dan kali
ini, Ran tertarik untuk mendengarkannya..
“Apa kau yakin, kalau dia itu
manusia?” tanya Ran khawatir.
“Yakin. Buktinya, sampai saat ini,
plester itu belum hilang dari lututku.” Jawabku sambil memamerkan
plester itu pada Ran.
“Plester yang unik.” Celetuknya.
Memang, plester ini unik. Ada banyak gambar burung merpati putih
disana. Tapi dari kemarin, aku menatapnya seperti plester biasa saja.
Tak ada unsur uniknya sama sekali.
“Sebelumnya, aku pernah melihat
plester ini. tapi aku lupa dimana aku melihatnya.”ucapku tak yakin.
“Yasudah, jangan dipikirkan. Toh, itu
hanya plester.” Kata Ran mencairkan suasana. Aku hanya mengangguk.
“Lain kali, jangan lupa ambil handphone dikolong meja sebelum
pulang. Nanti bisa celaka lagi.” Lanjut Ran.
“Iya iya.”
“Ran! Aoko!” seru seseorang
memanggil nama kami berdua. Ternyata, dia adalah Sonoko. Ketua PMR
disekolah kami. “Kalian mendapat tugas untuk berjaga di UKS saat
pertandingan bola nanti sore berlangsung. Jadi, kalian yang akan
merawat pemain bola yang terkena cedera. Bisa, kan?” lanjut Sonoko.
“Nanti sore?” ulang Ran.
“Iya. Nanti sore.” Jawab Sonoko.
“Baiklah, kami bersedia.” Ujarku
seraya tersenyum pada Sonoko dan Ran.
Sonoko tampak lega “Terimakasih ya.”
Katanya bahagia dan segera meninggalkan kami berdua. Pulang sore lagi
deh, keluhku dalam hati.
Sore ini adalah waktu dimana
pertandingan bola berlangsung. SMU Teitan melawan SMU Kaiho. Dua klub
bola asal kedua sekolah tersebut sama kuatnya. Jadi, pertandingan ini
adalah pertandingan yang sangat seru.
Pada menit ke 40, sang wasit meniupkan
peluit kencang-kencang. Pelanggaran terjadi.
Semua penonton, termasuk aku, segera
menengok ke tempat kejadian itu berlangsung. Pelanggaran yang
dilakukan oleh Hattori Heiji, pemain gelandang SMU Kaiho terhadap
Kuroba Kaito, striker SMU Teitan.
Lapangan mulai panas. Dan akhirnya,
sang wasit memutuskan untuk memberikan tuan Hattori kartu kuning,
karena melihat luka tuan Kuroba yang lumayan parah. Hal itu menambah
panasnya suasana. Sebagian pendukung SMU Kaiho, tampak tak senang
dengan keputusan wasit.
Tuan Kuroba segera dibopong menuju
ruang UKS. Aku dan Ran yang melihat kejadian itu, segera bersiap
untuk memberikan pertolongan pada Kuroba.
Aku bergidik takut ketika melihat
banyak darah disekitar betis tuan Kuroba. Ran memberiku obat
antiseptic yang siap dioleskan pada luka itu. Tapi aku hanya diam.
Aku diam sambil menatap luka yang dibentuk pada betis pemuda
dihadapanku.
“Hei. Kau kenapa? Cepat oleskan obat
itu pada lukaku!” suara tuan Kuroba membuyarkan lamunanku.
Aku menatap matanya dengan perasaan
takut. Iya, takut dibentaknya lagi. Aku kembali terdiam.
“Mengapa kau hanya diam sambil
menatapku? Jangan jangan, kau takut darah, ya?” terka Kuroba sambil
menahan tawanya.
Aku tertunduk kelam menahan rasa malu.
“Sudah, berikan tugas itu pada
kawanmu saja.” Kata Kuroba membuatku berani menatapnya lagi. Aku
mengangguk setuju dan memberikan obat itu pada Ran.
Ran mengolesi luka milik tuan Kuroba
dengan telaten. Tidak sepertiku. Aku jadi iri padanya, menyadari
bahwa aku tak bisa tahan melihat darah, padahal, menjadi perawat
adalah cita-citaku.
Setelah selesai, Ran berjalan ke
arahku. Ia membisikkan sesuatu ditelingaku. “Kuroba ingin berbicara
padamu.” Aku menelan ludah sambil menatap Ran heran. Ran hanya
mengangkat kedua bahunya, sambil menatapku seolah berkata
aku-tidak-tahu-apa-apa.
Aku berjalan dengan hati-hati mendekati
tuan Kuroba. “Ada apa?” tanyaku kemudian.
“Darahnya sudah dibersihkan.
Sekarang, kau bisa merawatku.” Jawab Kaito.
“Merawatmu? Apa lagi yang perlu
dirawat?” tanyaku lagi.
“Bodoh. Luka kecil disekitar kakiku
itu belum diberi plester.”
“Oh iya. Sebertar, aku ambil plester
dulu.”
“Tak perlu!” sergah tuan Kuroba.
Aku berbalik badan. Menatapnya dengan
penuh tanda tanya.
“Pakai plesterku saja. Ini..”
ujarnya sambil memberikan beberapa plester padaku.
Aku terdiam lagi. Bukan karena plester
itu ada darahnya, melainkan, plester itu sama dengan plester yang
diberikan pemuda misterius padaku kemarin sore.
Kemudian aku teringat sesuatu.
Iya. Aku ingat dimana aku melihat
plester yang sama. Plester itu selalu dikenakan tuan Kuroba dipipi
bagian kirinya. Entah untuk apa.
“Kenapa diam lagi? Kau tak bisa
menempelkan plester itu juga? Lantas, kau bisa apa?” ujar Kuroba
sedikit kesal.
“Kau yang memberiku plester ini
kemarin?” tanyaku segera berganti topik.
“Kemarin?”
“Iya. Kemarin sore. Aku terjatuh
tepat didepan lapangan bola karena lantainya sangat licin. Aku
menangis melihat lututku terluka. Lalu, kau memberiku sebuah
plester..”
“Kau gadis kemarin itu?”
“Benar.” Kataku berbinar. “Oh
iya, terimakasih untuk plesternya. Kemarin, aku tak sempat berucap
itu padamu. Hehe..” lanjutku malu-malu.
“Tidak masalah. Aku senang
menolongmu.” Ujar Kuroba dengan sebuah senyum diwajahnya. “Dan
sekarang, tugasmu adalah, menempelkan plester itu pada luka-luka
kecil disekitar kakiku.” Ucapnya seraya menyindir padaku yang tak
kunjung menempelkan plester itu pada lukanya.
“Oh iya. Aku lupa. Baiklah, tuan
Kuroba..”
“Apa kau bilang? Tuan Kuroba?”
“Iya. Apakah itu salah?” tanyaku
berhati-hati.
Kuroba menahan tawanya lagi. Tampak
menyebalkan. Tapi aku suka melihatnya. Karena dia terlihat tampan.
“Panggil aku Kaito saja. Jangan
Kuroba, Nakamori..”
“Oh, hehehe. Baiklah, Kaito?”
ucapku tak yakin. Tapi, Kaito tersenyum lagi padaku. “Tunggu! Kau
tahu namaku?” aku tampak tak percaya dengan apa yang Kaito ucapkan
sebelumnya.
“Tahu lah. Karena aku tertarik padamu
dari dulu.” Katanya dengan berwibawa. Tiba-tiba seperti ada
kupu-kupu yang menggelitik perutku. Kaito bilang apa? Dia bilang,
kalau dia tertarik padaku? Aku mulai merasakan wajahku merah padam.
Aku tak bisa berbicara apapun.
“Kalau begitu, panggil aku dengan
nama Aoko saja. Supaya lebih akrab.” Ujarku kaku. Aku tak bisa
bagaimana mengekspresikan perasaan ini. haruskah aku bergembira?
Haruskah aku memeluk Kaito? Haruskah aku marah pada Kaito yang
membuat mukaku padam? Ah. Aku tak tahu.
Aku pun segera menempelkan plester itu
pada luka-luka kecil disekitar kaki Kaito. Mendadak, ruangan UKS
tersebut sangat sunyi. Karena, dua orang didalamnya sibuk mengatur
detak jantung mereka yang mulai berjalan tak terkendali.
===
SELESAI!
Nyahahaha. Bagaimana pendapat kalian?
Aneh ya? Yaah beginilah karya tulis saya. Garing bin krik begini.
Oleh karena itu, jangan segan-segan memberikan komentar, kritik, dan
saran pada cerita ini. hehe. Ditunggu yah =D
Sayonara~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar