When You Believe (cerpen)
Tawa khas itu menghiasi wajahnya. Manis dan ceria. Rambut hitam nan panjang itu menghiasi kepalanya, bagaikan mahkota ratu yang buat dia menjadi ratu dihati Rio. Meski itu hanya palsu, tapi Rio tetap mencintai dia sedalam hatinya.
Ify Sangat beruntung bahwa Ia mempunyai kekasih sebaik Rio. Selain baik, Rio sangat pandai, kaya, perhatian, dan rendah hati. Ditambah juga, Ia telah menerima kekurangan Ify yang mungkin bagi laki-laki seusianya itu pekerjaan yang sangat sulit, tapi Rio tak merasa demikian. Ia merasakan perasaan yang biasa saja atau mungkin Ia justru merasa sangat bahagia bila dekat disebelah Ify. Begitu pula sebaliknya. Dan hal itu membuat cewek-cewek di Kampus Idola, kampus mereka, menjadi iri pada Ify yang mendapat perhatian lebih dari Rio.
“Fy.. kita jalan yuk?” ajak Rio saat berjalan bersama Ify keluar dari Kampus menuju ke parkiran mobil.
“Jalan? Maaf, Yo.. gak bisa..”
“emmm.. ke dokter ya?”
“iya. Hari ini kan jadwal aku periksa ke dokter..” kata Ify. Ia tak tega menolak permintaan Rio. Tapi, mau bagaimana lagi?
“oh yasudah. Aku anter kalau gitu..”
“gak perlu, Yo.. aku naik Taxi aja. Lagian, kamu ada les piano sama Bu Uci?”
“ah, masalah itu gampang, bisa diatur. Aku kan bisa relajar sama kamu. Boleh aku anter ya, Fy? Please.. sampai depan rumah doang aja” Rio memohon pada Ify. Ekspresi ini tak pernah ditunjukkan Rio lepada semua orang kecuali Ify. Ify hanya tersenyum, dan berkata
“Haha.. iyadeh.. tapi inget ya! Sampe depan rumah aja! Biar papa sama mama aku aja yang anter ke dokter. Kalau gini kamu masih bisa ikut les..”
“emmm..” Rio berat hati menerima tawaran itu “okelah, yuk!”
“yuk!”
Sampai ditempat parkir, mereka langsung menuju sebuah Porche hitam, mewah, dan antik punya Rio. Mereka segera masuk ke dalamnya. Sebelum masuk, Rio membukakan pintu masuk untuk Ify. Seperti tuan putri. Dan Rio sebagai pangerannya.
Setelah itu, Rio langsung masuk dan menstarter mobilnya. Ia melesat keluar dari kampus menuju jalan raya.
Sekilas, Rio menatap wajah Ify. Tentu tak diketahui oleh si empunya wajah manis itu. Akan tetapi, Ify segera sadar. Ia merasa dari tadi diperhatikan oleh Rio, dan langsung menoleh ke arah Rio. Rio terkaget akan gerakan Ify yang cepat itu, hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
Ify memalingkan wajahnya ke arah jalan lagi. Kesunyian memenuhi mobil Rio.
“Fy.. Nyalain radionya dong!” pinta Rio. Benar juga katanya, nyalain radio dalem mobil, bisa memecah kesunyian karena celotehan penyiarnya yang super garing tapi seru itu. Ify pun menuruti pinta Rio.
There can be miracles
When you believe
Through hope is frail
It’s hard to kill..
Who knows what miracles
You can active
When you believe
Somehow you will
You will when you believe..
Rio melirik cewek yang disebelahnya tadi dengan heran. Ternyata, Ify juga suka lagu itu. Katanya menerka alunan pelan yang keluar dari mulut Ify.
“suka juga Fy?”
“banget, Yo..”
“sama kalau gitu..”
“kamu juga toh? Haha.. Habisnya, enak banget didengerinnya. Damai gitu rasanya dihati.”
“iya. Bener banget! Rasanya damai kalau dengerin lagu itu..”
Ify hanya tersenyum mendengar kata terakhir Rio tadi. Ia berusaha tak mengganggu keseriusan Rio menyetir kendaraan lagi. Ia hanya diam.
Tak lama kemudian, sampailah mereka didepan rumah Ify. Ify langsung turun dari mobil Rio setelah mengucap kata perpisahan pada kekasihnya itu. Saat hendak masuk ke dalam rumah, Ify melihat mobil Rio masih berada didepan rumahnya. Mobil itu diam. Seperti tak ada orang didalamnya.
Ify mengendus geram. Kemudian dengan terpaksa, Ia kembali ke mobil Rio.
“pulang,” katanya singkat
Sang empunya mobil pura-pura tak mendengar kata tadi. Ia masih dengan santainya mendengar suara musik yang diputar olehnya. Tapi Ify mengerti bahwa Rio sengaja seperti itu, justru tambah membuat Ify geram.
“RIOOOOOOO!!!” teriaknya.
Mau tak mau Rio menoleh ke arah suara keras itu. Ia tak mau dibilang ‘tuli’ karena kata yang terlontar dimulut Ify sangatlah keras untuk didengar. Dengan malas, ia menoleh ke arah Ify.
“eh, Ify. Kok gak masuk?” tanyanya polos. Ify menghembuskan nafas dengan gaya mengejek. Tak menghiraukan basa basi Rio barusan.
“gak usah basa-basi deh, Yo. Kamu sengaja kaya gitu kan? Katanya kamu tadi janji mau langsung pulang? Kalau gini caranya, aku gak mau kamu antar deh..”
“tapi, Fy.. Aku Cuma pengen anter kamu sampe Rumah Sakit juga. Kamu selalu gak mau aku antar. Kenapa sih? Aku cowok kamu Fy. Udah hampir 6 tahun kita pacaran, tapi aku gak pernah anter kamu ke dokter. Please, Fy.. aku kaya gini karena aku sayang sama kamu. Aku pengen tahu kondisi kamu sebenernya..”
“aku gak mau kamu tahu karena rasanya itu sakit yo. Aku gak mau kamu tahu rasa sakit yang aku rasain..” batin Ify. mukanya bingung. akankah Ia menceritakan ini semua ke Rio?
Rio tak berkutik. Ia tahu kalau Ia memeang salah memaksa Ify. Ia juga tahu kalau Ify gak suka dipaksa. Dengan berat hati, Rio mematuhi apa kata Ify, dan segera pulang ke rumahnya. Ify yang melihat kelakuan pacarnya itu hanya menghembuskan nafas panjang.
-
Angin sepoi sepoi membuat rambutnya yang basah tadi mulai mongering. Acak acakan. Begitulah gayanya, simple. Matanya yang melambangkan sifat tegas pada dirinya kini mulai bosan dengan setiap kata yang dibacanya dari sebuah buku yang sedari tadi ia baca. Rio sendirian, tanpa Ify.
Sudah seminggu Ia tak bertemu dengan Ify. Disamping mulai padatnya jadwal kuliah mereka, Rio tak pernah sekalipun bertemu Ify di kampus. Sempat, Rio datang ke rumah Ify hamper 10 kali. tetapi jawabannya tetap sama. Nihil. Malah Ia sampai rela setiap hari bertengkar dengan satpam rumah Ify yang galaknya bukan main, menurutnya, karena sering datang ke rumah Ify dengan pertanyaan yang sama setiap harinya “Ify ada?”
Rio beranjak dari duduknya. Ia bertekad memutari kampusnya yang amat sangat megah dan besar ini, hanya untuk mencari sosok Ify.
Pencariannya itu terhenti, ketika melihat sosok cewek yang sedikit Ia kenali terlintas dimatanya. Itu Shilla, adik Ify. Rio berlari kecil menuju kea rah Shilla berada berharap tak tertinggal oleh langkah Shilla yang sepertinya sedang terburu buru.
“Shilla!” panggilnya.
Sang empunya nama langsung menoleh karena namanya disebut. Shilla rada bingung saat melihat siapa yang memanggilnya tadi, sepertinya Ia kenal, tapi siapa? tiba-tiba mulut gadis manis itu mengembangkan sebuah senyuman. Pertanda bahwa Ia telah mengenali sosok itu.
“Eh, kak Rio?” katanya masih menerawang, apakah sebuah nama yang Ia sebutkan tadi adalah nama pemuda tampan itu.
“Iya,” Shilla lega, ternyata Ia benar
“ada apa kak?” tanya Shilla
“Gue mau tanya, soal Ify”
“boleh, emang kak Ify kenapa?”
“lha, Lo kan adiknya? Harusnya Lo tahu dong, dia kenapa? Gini nih, udah seminggu Gue gak pernah ketemu dia dikampus. Trus kalo Gue kerumahnya, dia selalu gak pernah ada. Emang si Ify kenapa sih, Shill?”
“lho.. Kakak Belum tahu? Emang kak Ify Belum cerita?”
“tahu? Tahu apa? Gimana dia mau cerita. Waktu Gue terakhir kali ketemu sama dia waktu didepan rumah, Gue diusir, disuruh pulang sama dia” kata Rio heboh. Tiba-tiba Shilla terkekeh entah mengana ia tak mampu menahan tawanya melihat ekspresi Rio seheboh itu. Rio meliriknya sinis.Shilla tak berani tertawa lagi, karena sorotan tajam mata indah itu sungguh Sangat mematikan dirinya.
“Maaf kak..” kata Shilla merasa bersalah. “Aku Kira kayak udah tahu soal kak Ify.. Kok dia gak pernah cerita sama kakak sih? Aneh banget.” kata Shilla polos. Tak mengerti isi hati Rio yang penasaran.
“buruan cerita napa deh, Shill..” Shilla terbelalak sebentar. Kemudian melanjutkan bercerita.
“kak Ify lagi..”
“lagi?” ulang Rio
“sakit”
-
Bau Rumah sakit ini telah menjadi sahabatnya seminggu ini. Suara peralatan yang dikendalikan oleh tangan handal sang dokter sudah dikenalinya lama. Benda tajam selalu menghiasi tubuhnya setiap saat, membuatnya tak mampu bergerak dengan leluasa. Dan rasa sakit yang dirasakannya, tak kunjung menghilang dan pergi darinya. Tapi, Ia tak pernah menunjukkannya dihadapan semua orang termasuk Rio.
“Ify..” suara itu seakan membuat semangat dalam tubuhnya bangun. Ia merasakan hawa kesejukan itu muncul. Ia mulai membuka matanya secara perlahan, sambil menahan rasa sakit akibat alat kedokteran yang menyiksa tubuh mungilnya.
Rio berjalan mendekati Ify. Setiap langkah kakinya melangkah mendekati sosok itu, terasa sangat berat. Hatinya seperti tertusuk belati yang sudah diasah. Ia tak sanggup melihat kondisi Ify yang seperti ini. Ia sama sekali tak bisa apa-apa. Bahkan menangis sekalipun.
Rio duduk berada disamping tempat tidur Ify. Mengambil tangan kanan Ify untuk dipegangnya. Kaku, dingin, tak seperti tangan yang dipegangnya dahulu. Rio gemetar. Ia takut.
“apa kabar, sayang?” Tanya Rio pada akhirnya. meski Sangat terbata-bata dan pelan, Ify mengerti apa yang diucapkan Rio.
“baik, Yo..” jawab Ify juga pelan. Rio berusaha tersenyum, meski hatinya saat ini merasa sakit pula. Ia memperkuat genggamannya.
“Maaf Yo.. Aku gak sem—“
“sstttt.. jangan banyak bicara dulu, Fy. Kondisi kamu masih lemah” peringat Rio yang telunjuknya kini kian mendarat dibibir pucat Ify “no problem, sayang..” lanjutnya dan melepaskan telunjuknya. Ia kembali menggenggam tangan bidadarinya lagi.
Beberapa saat kemudian, seorang dokter masuk ke dalam. Menyuruh Rio keluar, karena sebentar lagi, Ify akan melakukan cuci darah. Rio menurut demi kesembuhan kekasihnya.
-
“AAAAAAAAARRRRRRRGGGGGGGGGGGGHHHHH!!!!!! Sakit!!! Sakitttt!!! Hoeeeeek.. Sakit dokter!! Sakitttttt!!!!” Ify mengerang kesakitan sambil mengeluarkan banyak darah dari mulutnya. Erangan itu sangat keras, sehingga Rio bisa mendengarnya dari luar.
“STOP!! JANGAN LAKUKAN ITU KE IFY!!! JANGAAAN!! KUMOHON!!!” teriak Rio dalam hati. Menutup mata dan telinganya rapat-rapat agar tak mendengar suara Ify yang bisa mematikan tubuhnya itu.
“Kak Ify gak mau.. Kalau liat Lo sedih , kalau Lo liat cara dia sembuh kayak gini, kak..” kata Shilla sembari menepuk bahu Rio dengan nada gemetar, mungkin ia juga merasakan hal yang sama dengan Rio. Shilla meninggalkan Rio yang masih tertunduk sendiri diluar ruangan cuci darah Ify.
-
“kenapa harus kamu yang tanggung ini semua, Fy? Kenapa bukan aku aja?” tanya Rio pada Ify estela kegiatan menyiksa itu selesai.
“karena, kamu itu, lebih berharga, daripada aku, Yo..” jawab Ify terbata-bata. “Yo?”
“Iya?”
“boleh? aku minta sesuatu?
“tentu boleh.. Mau apa?”
“Makasih Yo.. Tolong nyanyiin sebuah lagu dong? untuk yang terakhir kali aja, pakai piano itu..” tunjuk Ify ketempat piano berada.
“kok? Yang terakhir? Kapanpun aku mau Ify.. Udah ah, jangan ngomong aneh aneh kaya gitu..” Ify hanya tersenyum. “okelah, mau lagu apa?”
“When You believe”
“boleh.. Versi siapa? Mariah Carrey atau David Archuleta?”
“versi kamu dong, Rio..”
“Haha.. Sebentar yah..”
Rio menyambar piano yang berada disamping tempat tidur Ify. Piano ini memang sengaja diletakkan disini karena keinginan Ify. Rio duduk dikursi dan berhadapan langsung dengan piano tersebut. Mengambil nafas dalam dalam. Semoga kali ini dia tak salah menekan tuts piano dan tak mengecewakan Ify seperti Ia mengecewakan bu Uci.
Many night we’ve prayed
UIT no Proof anyone could hear
In our hearts a hopeful song
We barely understood
Now we are not afraid
Altough we knows there’s much to fear
We were moving mountains
Long before we knew we could, oh..
Entah mengapa air mata Rio pecah. ia merasa sebentar lagi Ia akan kehilangan sosok yang dicintainya itu. Ify. Tapi hatinya berusaha keras untuk menolak perasaan buruknya itu.
There can be miracles
When you believe
Through hope is frail
It’s hard to kill..
Who knows what miracles
You can active
When you believe
Somehow you will
You will when you believe..
Ify merasakan sebuah kesejukan memenuhi jiwanya. Setiap nada yang diberikan Rio padanya seraya memeluk dirinya erat erat.
In this time of fear
When prayer so often proves in vain
Hope see med like the summer birds
Too swiftly flow away
Yet now I’m standing here
My hearts so full, I can’t explain
Seeking faith and speaking words
I never thought I’d say..
“aaarrrgghhh” erangan itu menghentikan kegiatan yang dilakukan Rio. Ia berlari menjauh dari tempatnya bermain piano tadi menuju ke tempat tidur Ify.
Ify mengerang kesakitan. Kali ini Ia tak bisa membohongi itu didepan Rio, karena kali ini adalah rasa sakit yang paling parah dirasakan Ify.
“hold on, Fy! Aku panggil dokter sekarang..” kata Rio tergopoh gopoh dan segera meninggalkan Ify yang kesakitan didalam ruangan itu. Belum sempat Ia melangkahkan kakinya yang kedua kali, tangan Ify mencegahnya. Dilihatnya, Ify sedang menggeleng keras.
“jangan Yo.. Lanjutin aja..” katanya
“gak! Lihat kondisi kamu yang kesakitan, Fy.. Aku gak mau gara-gara aku telat panggil dokter, kamu jadi tambah kritis..”
“jadi kamu gak mau nurutin janji aku ya? Aku kira kamu mau..”
“bukannya gitu Fy—“
“kamu gak sayang lagi sama aku ya, Yo?”
“Fy! Aku sayang! Banget.. Tapi keadaan ini beda.. Kamu harus dapet penanganan dokter dulu..”
“yaudah Yo, kalo kamu gak mau..”
“Fy! Huft.. Oke.. Aku turutin kemauan kamu.. Ada syaratnya ya?”
“apa?”
“gak boleh tambah parah..”
“oke Yo :D”
Terpaksa Rio mengikuti kemauan Ify. Ia memegang tangan Ify begitu kuat. Seakan Ia merasakan sesuatu yang berbahaya datang pada Ify. Begitu pula sebaliknya dengan Ify.
There can be miracles
When you believe
Through hope is frail
It’s hard to kill..
Who knows what miracles
You can active
When you believe
Somehow you will
You will when you believe..
Jemari seseorang yang digenggamnya tadi, tiba tiba saja mengendurkan genggamannya. Wajahnya kini kian makin pucat. Saat pemuda itu melihat kearah kekasihnya yang terbaring lemah diatas kasur itu mulai tak berdaya, pemuda itu segera keluar ruangan terkutuk itu, baginya, menuju ke ruangan seseorang yang penting untuk setiap keadaan kritis yang dialami belahan jiwanya.
Setelah seseorang itu memperjuangkan agar kekasihnya bisa terus bersamanya keluar dari ruangan terkutuk itu. Ia semakin tak percaya dengan apa yang Ia ucapkan barusan. Tak pernah terfikir akan kehilangan seseorang yang Ia sayangi sebelumnya. Tapi sudah terlanjur. Malaikat maut itu tega mengambilnya dari dirinya untuk selama lamanya.
-
Selesai~~
How? Ancur yak? Hehehe..
Kok cerita yang aku bikin endingnya selalu meninggal sih? Atau jangan jangan, aku berbakat jadi pembunuh nih.. Wahahaha XD *bawapisautajemdibelakangpunggung*
Ongkray..
Kritik dan saran, amat sangat saya butuhkan =)
Adios
Ciyeeehhhh. bagus lho, Jaloo!!! u,u gimana ya.. sebagai mantan pembunuh tokoh dalam cerpen, saya mengerti rasa bahagianya (?)
BalasHapusWell, well.. Rio nya kasiaaannn.. udah mending sama aku sini, Yo! LOL :P
#komengakmutu haha ^^v
Makasih ye mbak gentong (=
BalasHapusMeskipun gak mutu, tapi kalau ada yang komen saya seneeeeeeng buwanget lhoo.. XD
Arigatoo ^^