Dream And Love (Part 1) *cerbung*
Dream And Love (part 1)
Pantai cinta. Begitu sebutan bagi Shilla dan Gabriel di pantai ini. Bocah berusia 4 tahun ini sering dan suka banget main ke pantai ini. Selain jarak rumah mereka yang dekat dari sini, mereka merasa nyaman kalau berada ditempat ini. Sepi. Hanya suara ombak yang menyapu luasnya lautan dan semilir angina yang membuat rambut mereka berkibaran.
“Ini apa namanya, Yel?” Tanya Shilla. Tangannya menunjuk sebuah gambar pada majalah bekas yang dibawanya dari rumah tadi.
“Kalau gak salah, namanya, Monas!” jawab Gabriel yang masih dengan tampang bingung, apakah jawabannya tadi benar atau salah. “Iya! Itu Monas! Mama pernah cerita,” sambungnya segera dan kali ini, ia yakin bahwa jawabannya benar.
“oh. Monas.. dimana tuh?”
“di Jakarta”
“Jakarta?” shilla mengulangi kata itu lagi. Gabriel hanya mengangguk kecil. “sepertinya Jakarta itu jauh ya, Yel?” kata Shilla putus asa.
“kamu mau kesana? Lihat Monas?”
“he’em” Shilla mengangguk bersemangat.
“kalau udah besar nanti, aku bakalan ajak kamu kesana Shill!”
“beneran??” Shilla berbinar-binar
“iyaaaa!!”
“janji ya?” Shilla mengacungkan kelingkingnya tepat dihadapan Gabriel.
“janji =)” dengan senyuman yang menghangatkan dari bibir bocah itu dan menyambut acungan kelingkingnya, Shilla menjadi lega..
“pulang yuk!” ajak Gabriel setelah melepaskan kelingkingnya dari Shilla yang saling terhubung tadi.
“tapi, Yel—“
“lihat! Mau malem! Kalau kamu diculik setan gimana? Aku dong, yang dimarahin sama ibumu? Ayok!” Gabriel berdiri. Membersihkan pasir yang menempel disekitarnya, dan mengulurkan sebelah tangannya untuk digapai Shilla.
“hihihi,” Shilla terkekeh
“kok ketawa?”
“emang setan bias nyulik aku ya?”
“bisalah! Setan itu, suka nyulik anak bandel, apalagi yang suka keluyuran malem-malem begini kayak kamu!” Gabriel bergidik.
“Oh.. Kamu takut setan?” Tanya Shilla polos. Lagi-lagi ia terkekeh dengan ekspresi wajah Gabriel yang malu banget kedoknya kebuka.
“iya! Ayo buruan pulang!” kali ini Gabriel tak sabar melihat Shilla yang belum juga berdiri.
“iya! Iya! Ayok!” Shilla membalas uluran tangan Gabriel yang sedari tadi menghadang tepat dihadapannya. Ia membersihkan bajunya dari pasir sama seprti yang dilakukan Gabriel dan beranjak pulang, tak lupa membawa majalah bekasnya.
10 tahun kemudian..
“Gabrieeellll!!!!!!! Buruan kesini!!” teriak Shilla yang berlari jauh sekali dari Gabriel. Memang, masalah lari-larian Shilla emang lebih jago darinya.
Shilla kini sudah berada tepat didepan Pantai Cinta. Melepas dasi, sabuk, sepatu, kaos kaki, dan tas yang dikenakannya tadi di sekolah.
Hari ini, sepulang sekolah, dicuaca yang terik. Shilla akan menunjukkan sebuah karyanya pada Gabriel. Katanya, ini sangat penting. Jadi, terpaksa, Gabriel menuruti permintaan sahabatnya ini.
“tungguin napa Shill!! Hoss.. hosss.. hoss..” Gabriel hamper dekat dengan Shilla. Terdengar sekali nafasnya yang tak normal itu, Shilla ketawa geli.
“lagian, lari cepet amat! Sarapan kereta ya?” canda Gabriel yang sekarang berada disamping Shilla dan segera merebahkan tubuhnya ke pasir-pasir yang lembut tanpa melepas apapun seperti yang dilakukan Shilla tadi.
“kamu lama amat!”
“kamu tuhm yang kecepetan!”
“makanya yel! Sering-sering lari kayak aku!”
“percuma,”
“hah? Kok percuma?” Shilla bingung
“ini namanya takdir! Kalau dari awal Tuhan nyiptain aku kalah lari sama kamu, yaudah. Sampai kapanpun aku gak bias kalahin kamu..” kata Gabriel santai “kecuali Shill, aku mau ngerubah takdirku itu! Pasti tuhan akan merubahnya. Kalau kematian lain lagi, Shill. Kematian itu gak bisa diubah atau diundur, sedetik pun..”
Shilla ternganga mendengar penjelasan Gabriel tadi. Tapi ia heran, kenapa akhir kata-kata Gabriel tadi ngerasa menjanggal dihatinya.
“kok nyambung sama mati sih?” Shilla memberanikan diri untuk menanyakan hal itu pada Gabriel yang lagi berpose tidur menatap langit langsung.
“hehe.. ngak tahu..” jawab Gabriel sambil nyengir “eh, katanya kamu mau nunjukin sesuatu sama aku? Apaan?” lanjutnya bertanya. Tak mengubah posisinya satu gerakan pun.
“yee!! Duduk dulu dong! Lepas juga tuh dasi, sabuk, kaos kaki, sepatu, sama tas kamu! Biar aku ngelihatnya enak gitu!” protes Shilla. Gabriel membuka matanya yang sedari tadi menutup karena tak tahan akan sinar matahari. Dan segera duduk, persis disamping Shilla.
“kalau Cuma duduk sih gapapa, kalau yang lepas dasi, sabuk, kaos kaki, sepatu, sama tas itu ogah! Kalah bolang.” Gantian Gabriel yang protes.
“bolang?” Shilla masih belum faham “bocah petualang, maksudnya?”
“jaah, kalau bocah petualang mending Shill,”
“terus? Maksudnya bolang apa dong?”
“bocah ilang!”
Shilla ketawa lepas mendengar jawaban dari sahabatnya yang satu ini. Dibilang manja sih enggak, Cuma terlalu rajin aja! Dia ngelakuin tugas yang harusnya Shilla kerjakan sebagai cewe.
“udah ah! Kamu mau nunjukin apa?” Tanya Gabriel. Oh iya.. Shilla hamper lupa belum mengeluarkan apa yang Ia akan tunjukkan. Tangannya dengan lincah membuka tasnya dan menemukan sebuah perkamen didalamnya. Kemudian ditunjukkannya pada Gabriel.
“ini gambar Monas, Yel! Cewek berambut panjang ini aku. Dan cowok disebelah aku itu kamu, Yel..”
Gabriel tersenyum haru. Ternyata sahabatnya ini masih berkeinginan untuk pergi ke sana.
“kapan kita kesana, Yel?” Gabriel Nampak kaget. Panik. Sepertinya Ia tak siap akan pertanyaan Shilla tadi.
Shilla memalingkan wajahnya ke Gabriel. Ia pun bertanya-tanya dalam hati. Ada apa dengan Gabriel?
“gimana kalau besok?” Tanya Gabriel.
“besok??”
“Iya, besok. Kita naik bus! Kita kan udah gede, Shill!”
“emang iya? Boleh?”
“boleh aja lagi! Asal gak ketahuan! Hihi.. sehari aja kan gapapa, Shill! Sebelum terlambat..”
“terlambat? Terlambat naik bus?”
“ha? I, iya..” jawab Gabriel ragu.
“oh iya deh. Besok kita pergi!!” Shilla bersemangat disambut dengan anggukan pelan Gabriel.
“pagi pak, pagi bu..” sapa Shilla pada kedua orang tuanya yang sedang sarapan.
“pagi sayang. Duduk dulu yuk! Sarapan bareng..” kata ibu Shilla. Shilla menurut.
“kamu mau kemana? Kok udah rapi begitu?” Tanya bapak Shilla menyelidik.
“mau ke Ja—“ Ya tuhan! Shilla menepuk jidatnya. Ia hamper keceplosan tadi.
“kemana Shill?” Tanya bapak Shilla lagi.
“ke .. kerja kelompok.. Iya pak! Kerja kelompok.. hehe,” Shilla menjawab apa adanya yang terlintas dikepalanya. Bapak dan ibunya hanya berkata “oh,”
Selesai sarapan, Shilla mendengar suara bell rumahnya berbunyi. Pasti Gabriel! Terkanya. Dengan langkah senang, Ia membuka pintu. Didapatinya Irva dan Zevana teman sekelasnya berada disitu.
Irva dan Zevana bermata sembab, sepertinya habis nangis. Shilla mempersilahkan kedua temannya untuk masuk, tapi mereka menolaknya dengan sopan. Mereka ingin bertemu dengan Shilla seperti ini saja.
“kalian kenapa? Habis nangis?” Tanya Shilla.
“Gabriel, Shill..” kata Zevana.
“iya? Kenapa dia? Bikin gara-gara sama kalian? Waduh! Bener-bener tuh bocah! Aku jitak, baru tau rasa!”
“bukan! Bukan itu masalahnya..” kt Irva.
“lha? Terus? Apa?” Shilla bingung. Tak mengerti maksud kedatangan dua temannya ini yang menangis dihadapannya.
“Gabriel.. Gabriel.. Gabriel.. Dia.. Di-.. Dia.. Gabriel meninggal, Shill,” kata Irva pada akhirnya.
Lemas. Sebagian tubuh Shilla melemas mendengar kalimat itu terlontar. Sebagian jiwanya terasa terambil. Hilang. Ia tak bias apa-apa. Hanya menangis. Padahal,Shilla itu benci banget kalau dia sampai ngeluarin airmata.
Tanpa pamit. Shilla berlari keluar rumah sambil menangis. Ia menuju rumah Gabriel. Mencoba membantah apa yang barusan diucapkan kedua temannya barusan. Tapi ia tak mampu lagi untuk mengelak. Sudah terlambat..
TBC :D
Keritik dan saran sangat saya butuhkan :D
Adios!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar